Snip20160724_1

Sudah lama sejak terakhir saya menulis catatan panjang lagi. Meskipun saya sangat menyukai momen ketika saya sedang berpikir dan menuangkan ke dalam tulisan, nyatanya saya tidak benar-benar bisa kuat melakukannya lama-lama. Saya cepat bingung dan kemudian bosan. Lalu tulisan tinggallah sekedar draf yang tak pernah bisa selesai. Tapi kali ini saya coba untuk mencoba kembali. Meluangkan sedikit waktu di tengah malam sekedar untuk mencatat isi pikiran saya yang beraneka rupa.

Saya putuskan untuk menulis tentang satu hal yang 2 tahun terakhir ini saya rasakan. Kekosongan.

Saya di usia 26 tahun hari ini sudah begitu berbeda dengan saya 4-7 tahun lalu. Dimana Baim waktu itu masih seorang anak muda yang menggebu-gebu. Yang punya bermacam keinginan. Mulai dari soal bisnis, soal idealisme, soal karya, juga tak ketinggalan soal cinta. Begitu banyak keinginan yang ingin dicapai oleh Baim muda kala itu. Mendirikan sebuah startup sukses, memberi pekerjaan bagi banyak orang, mengabdikan diri untuk pendidikan, juga mendapatkan gadis yang disukai. To become big and significant.

Tapi ternyata waktu telah mengajari dan membentuk saya menjadi sosok yang berbeda dengan apa yang saya bayangkan di masa lalu. Entah kenapa, semua keinginan-keinginan besar tersebut pelan-pelan tak lagi menjadi hal yang penting. Tapi ini bukan karena saya menyerah. Bukan juga karena saya merasa tidak mampu. Saya hanya merasa keinginan-keinginan tersebut bukan hal yang penting lagi. Karena sesungguhnya bukan hal-hal semacam itu yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya.

Semuanya bermula ketika saya mulai sedikit demi sedikit mempertanyakan apa sesungguhnya hakikat keberadaan saya di dunia? Apakah memang benar-benar agar bisa mencapai semua keinginan-keinginan saya tadi? Apakah dengan hal-hal tersebut baru saya bisa merasa bahagia? Pelan-pelan saya mulai menemukan titik terang atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Saya mengamati hidup saya selama ini. Kejadian yang saya alami hari ini, ternyata adalah sebuah akibat dari kejadian di masa lalu. Sekalipun itu adalah kejadian kecil. Setiap kejadian ini kemudian membentuk sebuah perjalanan kehidupan. Dimana saya hanya bisa menghubungkan ke belakang (masa lalu), bukan ke depan (masa depan).

Dari sini saya mulai belajar, bahwasanya setiap titik kejadian dalam hidup saya akan membawa saya ke titik lain. Yang mana semuanya baru bisa saya pahami ketika sudah dilalui. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hidup. Tak perlu bersedih dengan kesusahan. Juga tak perlu terlalu girang dengan kesenangan. Semuanya adalah sebuah titik dari sebuah perjalanan panjang kehidupan. Ini yang kemudian membawa saya melihat hidup dengan lebih tenang.

Apakah ini berarti saya tinggal diam saja menunggu masa depan datang? Tentu saja tidak. Saya tidak mungkin diam saja. Karena itu jelas membosankan. Saya tidak suka diam saja. Lantas, apa yang perlu saya lakukan? Sederhana saja, cukup lakukan hal-hal yang memang saya ingin lakukan dan yang saya rasa itu hal yang baik. Tak perlu terlalu kuatir soal hasilnya. Tak ada sesuatupun yang akan menjadi sia-sia. Ada saatnya saya akan paham kenapa saya dulu melakukan itu.

Saya mengerjakan apa yang memang saya inginkan. Saya percaya apa yang saya kerjakan adalah hal yang baik dan benar. Saya pun mengerjakan itu semua dengan sungguh-sungguh karena memang begitulah sesuatu seharusnya dikerjakan. Saya mengikuti feeling saya. Dan cukup sampai sini saja. Soal kemana itu semua akan membawa saya, tidak usah terlalu dipusingkan. Karena nyatanya kita tidak akan pernah tahu sampai itu semua datang pada kita.

Saya menikmati setiap perjalanan hidup saya hari ini. Entah itu hal-hal yang saya sukai, maupun juga hal-hal yang tidak saya sukai. Saya hanya sekedar pemain dari skenario panjang hidup saya. Saya menjalankan skenario itu sebaik mungkin. Tapi saya tahu saya hanyalah pemain, bukan penulis cerita, bukan sutradara. Yang bisa saya lakukan adalah bermain sebaik mungkin. Dan menikmati setiap bagian dalam perannya.

Ya, hidup saya kini lebih tenang. Tak banyak ekspektasi, tak banyak keinginan. Di satu sisi, saya merasa tenang. Tapi di sisi lain saya pun merasakan kekosongan. Kehidupan yang tak lagi menggebu-gebu. Terasa pelan. Tenang. Sepi.

 

Mungkin ada kalanya nanti saya akan merubah lagi cara pandang saya terhadap kehidupan. Mungkin. Saya tidak tahu.

 

“You can’t connect the dots by looking forward, you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future.” – Steve Jobs (dalam pidatonya di Stanford University tahun 2005)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s