introvert

Saat saya masih SD, saya ingat betul kalau saya akan sangat gugup ketika harus berbicara di depan kelas. Pertama, saya cadel. Sudah beberapa kali saya ditertawakan karena pelafalan huruf ‘R’ saya yang terdengar aneh. Kedua, entah kenapa tangan saya tidak pernah bisa tenang, apalagi ketika gugup, pasti akan sangat terlihat kalau tangan saya bergetar. Berbicara di depan kelas jelas bukan momen yang menyenangkan buat saya ketika itu.


Kini, setelah belasan tahun berlalu, keadaan tak lagi benar-benar sama. Meskipun belum bisa bicara dengan baik di depan umum, saya sudah mulai bisa mengatasi ketakutan-ketakutan saya dulu. Saya semakin punya keberanian. Saya sudah jauh lebih bisa menenangkan diri. Saya juga cukup bagus dalam menata kata per kata yang ingin diucapkan, meskipun kadang juga masih terasa berantakan. Saya juga mampu berpikir dengan cepat sehingga memudahkan saya dalam menemukan kalimat yang perlu diucapkan. Bahkan, jika memang saya dalam suasana yang nyaman, saya bisa bicara begitu banyak.


Tapi, ada satu hal yang tidak berubah. Satu hal yang sepertinya memang menjadi karakter pribadi saya. Yang menyadarkan saya bahwa saya hari ini dan saya yang dulu masihlah orang yang sama. Saya adalah orang yang introvert. Sebanyak apapun saya berbicara, sebaik apapun kemampuan saya dalam berbicara, dalam hati saya, saya merasa lebih nyaman untuk sekedar diam. Entahlah, saya memang lebih nyaman untuk diam dan mengamati dibanding berbicara. Diam bukan karena tidak bisa berbicara. Diam bukan karena tidak ada hal yang ingin dibicarakan. Tapi terkadang, diam itu cara terbaik untuk bisa belajar. Diam dan mengamati bagaimana kehidupan berjalan. Diam dan mengamati berbagai karakter manusia. Dari sini, saya belajar banyak hal. Bahkan dari sekedar mengamati hal-hal sederhana.


Meskipun mulut saya diam, tapi kenyataannya pikiran dan perasaan saya justru sangat aktif merespon ketika saya diam. Pikiran saya akan berusaha saling mengaitkan kejadian satu sama lain ketika saya hanya diam dan mengamati. Dan perasaan saya memunculkan berbagai emosi terhadap apa yang saya amati. Baik pikiran dan juga perasan, keduanya mengajak saya untuk belajar. Membawa saya akan pemahaman yang mendalam tentang diri saya dan tentang kehidupan yang luas. Membawa saya untuk semakin mengenal siapa saya dan untuk apa saya ada disini hari ini. Membentuk diri saya hingga menjadi seperti saat ini.


Tetapi menjadi introvert itu juga berarti saya lebih nyaman menutup diri. Memang beginilah saya, pria yang tidak banyak bercerita tentang hal-hal pribadinya ke orang lain. Yang lebih banyak menyimpan hal-hal pribadinya sendiri. Tapi nyatanya, saya tidak selalu bisa begitu. Saya tidak bisa memungkiri bahwa saya juga sama seperti yang lain, makhluk sosial, yang butuh keberadaan orang lain. Dan ada satu titik dimana saya merasa perlu untuk bercerita kepada orang lain terkait apa yang saya pikirkan, dan apa yang saya rasakan. Setidaknya, menulis di blog ini juga menjadi salah satu caranya.


Entah bagaimana dengan orang-orang introvert lainnya, apakah juga mengalami dan merasakan sebagaimana diri saya?

Advertisements

One thought on “An Introvert Guy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s