cinta-kehidupan

 

Takdir selalu membawa saya kepada peristiwa-peristiwa yang kemudian menjadi bahan dalam saya belajar. Ya, beberapa bulan terakhir ini ada dua novel yang saya baca. Yang satu, dari penulis favorit saya Pidi Baiq, berjudul Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Dan yang terakhir, buku sastra lawas karangan Buya Hamka, berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW). Dua buku ini jelas dua buku yang berbeda, ditulis di jaman yang berbeda, dan dengan nuansa serta pesan yang berbeda. Tapi ada satu kesamaan tema dari kedua buku ini, yang kemudian sepertinya takdir memang sengaja membuat saya membaca kedua buku ini dalam waktu yang cukup berdekatan, yakni keduanya bertemakan Cinta.

 

Saya bukanlah seorang yang gemar membaca. Sepanjang hidup saya, tak banyak buku-buku yang pernah saya baca sampai tamat. Secara pribadi, film lebih membuat saya tertarik ketimbang buku. Tapi nyatanya, dua buku yang saya tuliskan diatas tadi menjadi pengecualian, atau mungkin akan menjadi pembuka ketertarikan saya pada dunia kesusastraan.

  

Buku Dilan ditulis pada tahun 2014. Meskipun secara setting berada di tahun 1990, rasanya banyak hal masih tidak jauh berbeda dengan keadaan saat ini. Kalau dicari genre-nya, novel ini mungkin masuk kategori teenlit. Ceritanya memang sangat cocok untuk remaja, cerita ringan sehari-hari yang menyangkut kisah percintaan anak remaja. Tapi satu hal yang spesial dari buku ini, yang juga menjadi keunggulan Pidi Baiq, adalah mampu memberikan romansa asmara tanpa perlu banyak puisi penuh puja-puji, wewangian bunga-bunga, ataupun nyanyian mendayu-dayu. Tokoh utama di cerita itu, Dilan berhasil menunjukkan cintanya pada kekasihnya, Milea cukup dengan hal-hal yang sederhana. Dari sekedar krupuk, buku TTS, hingga tukang pijit. Lewat buku itu, Pidi Baiq berhasil memberikan kesan bahwa cinta itu sederhana, cinta itu bisa dimunculkan dari apa saja, yang terpenting daripada itu, ialah ketulusan dalam memberikannya.

  

Buku TKVDW ditulis jauh sebelum saya lahir, tahun 1938. Bahkan, bangsa ini belum memproklamasikan kemerdekaannya saat itu. Setting tahun 1930-an di cerita itu jelas sudah berbeda jauh dengan apa yang ada di jaman sekarang. Dari segi bahasa pun buku ini agak sedikit susah dipahami, apalagi oleh saya yang jarang membaca buku. Tapi saya sangat tertarik membaca buku ini. Apalagi kalau bukan karena awalnya saya sangat menyukai cerita di film berjudul sama yang baru saja saya tonton baru-baru ini. Entah kenapa, film itu sangat berbekas di benak saya. Meskipun secara film, banyak kekurangan yang cukup menganggu, tapi isi cerita di film itu begitu menggugah pikiran saya untuk segera mencari tahu lebih dalam di novel aslinya. Saya merasakan filosofi mendalam dari cerita itu. Pikiran saya sangat haus akan buku yang mungkin sudah sulit didapatkan itu. Beruntung jagat dunia maya membantu saya menemukan buku itu. Dan dalam waktu kurang dari sehari, saya berhasil menghabiskan buku itu.

  

Novel asli TKVDW ternyata jauh lebih bagus dari apa yang diceritakan di film. Terdapat hikmah yang begitu mendalam di novel ini. Tak salah memang kalau cerita-cerita macam ini juga disebut hikayat di zamannya. Karena bukan sekedar hiburan yang kita dapat dari ceritanya, tapi juga pesan-pesan mendalam yang membuat kita lebih baik dalam menjalani hidup. Buku ini menceritakan tentang kesucian cinta. Tentang bagaimana cinta membuat manusia berani mengarungi kerasnya kehidupan. Bagaimana pedih dan sakit akibat penolakan dan penghinaan bisa terobati dengan adanya rasa cinta. Mungkin bukan akhir bahagia yang ada di kisah ini. Tapi itu juga yang membuat cerita ini menarik. Bahwa kebahagiaan dan penderitaan yang dirasakan oleh kedua tokoh utama dalam cerita ini, Zainuddin dan Hayati, adalah berasal dari hal yang sama, dari cinta. Dan keduanya tidak akan bisa dipisahkan, bahwa ada bahagia dalam penderitaan, dan ada derita dalam kebahagiaan. Zainuddin dan Hayati saling belajar soal makna cinta, keduanya sama-sama melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan, kesalahan yang kelak akan mereka sesali, tapi pada akhirnya mereka berdua sadar bahwa cinta tetap tak bisa lepas dari mereka, karena cinta yang tumbuh dalam diri mereka adalah cinta yang bersumber dari kesucian perasaan.

  

Tak hanya soal cinta dua anak manusia, novel TKVDW juga mengaitkan hal itu dengan agama dan kehidupan. Bahwa rasa cinta yang suci itu datangnya dari Sang Maha Pencipta, yang juga mengatur segala apa yang terjadi pada kehidupan kita. Ketika kita sepenuhnya yakin bahwa semuanya berasal dari Yang Maha Kuasa, maka cinta akan menyelimuti kita, betapapun senang ataupun susah yang harus dialami. Bahwasanya bukan harta, bukan jabatan, ataupun keturunan yang membuat kita merasakan kehidupan yang bahagia. Cinta kita lah yang membuat kita merasa paling bahagia.

  

Dari kedua buku ini saya menemukan berbagai petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sering menguasai pikiran. Tuhan seakan memberikan saya jawaban lewat buku-buku ini. Dan buku ini saya baca ketika pertanyaan-pertanyaan itu sedang kuat-kuatnya menguasai pikiran saya. Pertanyaan yang sering membuat saya bingung bagaimana harus mengambil keputusan? Bagaimana saya harus melangkah dalam hidup? Apa hal-hal yang sebenarnya saya kejar? Ketika berbagai perasaan muncul dalam hati saya, ketika saya harus mulai menghadapi kenyataan dunia yang tidak selalu sesuai dengan harapan saya, ketika saya mulai melihat kawan-kawan saya mulai menempuh kehidupan yang berbeda. Sedikit demi sedikit, saya mulai menemukan yang saya cinta. Peristiwa demi peristiwa mulai mengarahkan saya untuk menemukan makna dari kehidupan saya di dunia. Satu hal yang selalu saya yakini, Allah SWT telah merancang kehidupan saya, tinggal saya menjalani dan mensyukuri segala hal yang terjadi. Saya hanya berusaha melakukan apa yang terbaik yang bisa saya berikan.

  

Ya Allah, terimakasih atas perasaan dan pikiran yang mendalam, terimakasih atas kawan, saudara, serta alam kehidupan, terimakasih atas pengalaman, dan pelajaran yang saya terima. Terimakasih yang sebesar-besarnya.

  

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 / Pidi Baiq)

  

“Dan cinta, adalah melalui beberapa pintu. Ada dari pintu sayang, ada dari pintu kasih, ada dari pintu rindu, tetapi yang paling aman dan kekal, ialah cinta yang melalui pintu kasihan itu.” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck / Buya Hamka)

  

“Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck / Buya Hamka)

  

“Jangan sampai terlintas dalam hatimu, bahwa di dunia ada satu bahagia yang melebihi bahagia cinta. Kalau kau percaya kebahagiaan selain cinta, celaka diri kau. Kau menjatuhkan vonis kematian keatas diri kau sendiri!” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck / Buya Hamka)

  

Advertisements

4 thoughts on “Cinta dan Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s