Ini bukan soal benar salah, bukan juga soal baik buruk, kadang pilihan-pilihan seseorang didasarkan pada hal-hal yang bersifat pribadi, yang berkaitan erat dengan rasa, bukan logika. Begitu pula dengan saya, yang memutuskan untuk tetap sendiri sampai di usia saya yang 24 tahun ini. Bagi beberapa orang, ini mungkin hal biasa, bagi sebagian lain mungkin tidak.

 

Sekali lagi, ini bukan permasalahan mana yang benar dan mana yang salah, ini hanya pilihan yang saya ambil. Bukan berarti saya termasuk golongan yang anti-pacaran atau apa. Secara pribadi, saya tidak menolak berpacaran, juga tidak menganjurkan. Pacaran atau tidak, itu hanya persoalan teknis, nyatanya, sekalipun menolak berpacaran, kita tidak bisa menghapus naluri kita untuk menyukai orang lain.

 

Begitu juga dengan saya, yang juga manusia normal seperti kebanyakan manusia lainnya. Tidak mungkin bagi saya untuk menghentikan munculnya perasaan-perasaan suka kepada orang lain. Apalagi saya tidak hidup sendirian selama ini. Apalagi saya juga punya banyak kawan perempuan. Apalagi ada diantara mereka yang menarik, yang menyenangkan, yang mengasyikan, yang saya kenal dan juga mengenal saya. Apalagi pasti ada interaksi dengan kawan-kawan saya ini. Saya bukan batu yang tidak merespon terhadap manusia. Tidak mungkin bagi saya untuk menghentikan perasaan-perasaan yang muncul dari interaksi-interaksi ini.

 

Perasaan-perasaan tersebut, apapun itu namanya, muncul dengan sendirinya. Dan saya pikir, hal ini adalah hal yang bagus. Membuat kita sadar bahwa kita memang bukan batu, kita ini manusia. Masalah langkah yang kita ambil adalah berpacaran atau tidak, itu adalah persoalan berbeda menurut saya. Dan saya memilih untuk tidak mengambil opsi itu. Tapi bukan berarti tidak ada keinginan dalam diri saya untuk berpacaran. Nyatanya ada. Saya selalu penasaran bagaimana rasanya ketika memiliki seseorang dengan status yang lebih dari sekedar teman biasa. Yang mengingatkan kita, yang kita ajak pergi berdua, yang memberikan perhatian lebih daripada yang lain. Apalagi saya tidak pernah mengalami yang demikian. Jelas saya iri dengan kawan-kawan saya yang pernah mengalaminya. Ya, tapi saya rasa saya tetap memilih untuk tidak mengambil opsi itu.

 

Saya masih menikmati pilihan saya. Pilihan untuk sekedar menyukai, tanpa ada keinginan lebih. Pilihan untuk memberikan kebebasan pada perasaan untuk bisa independen, tanpa terpengaruh bagaimana perasaan orang lain pada saya. Bagi saya, perasaan adalah untuk dirasakan, bukan dipikirkan, apalagi dipusingkan. Saya biarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Ya, mungkin ini hanya sekedar alasan saya saja, alasan buat saya yang pengecut, yang tidak berani untuk mengungkapkan apa yang dirasa. Jujur, saya memang takut, saya memang bukan orang yang paling pemberani di dunia ini. Saya takut, ketika ternyata orang yang saya suka tidak suka kepada saya. Saya juga takut ketika ternyata dia menyukai saya, namun di suatu saat nanti saya malah menyukai orang lain.

 

Perjalanan hidup saya masih panjang. Dan saya masih sangat menikmati perjalanan ini. Termasuk menikmati bagaimana bermacam jenis perasaan muncul dalam diri. Entah bagaimana nanti, saya belum ada niatan untuk menepi. Apakah akan muncul perasaan-perasaan baru, atau kembalinya perasan-perasaan lama, saya tidak tahu pasti. Tapi untuk saat ini, saya pilih untuk sekedar menikmatinya sendiri.

 Hal-hal yg menyangkut rasa, cukup biarkan perasaan saja yg bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s