a long way life
a long way life..

Seringkali bermunculan berbagai pertanyaan yang mengusik otak saya. Kenapa saya harus diberi kehidupan? Kenapa saya perlu untuk diciptakan? Kenapa sampai saat ini saya masih harus hidup? Apakah hidup atau matinya saya akan berpengaruh terhadap kehidupan yang lain? Apakah penciptaan saya ini hanya sekedar sebuah formalitas saja ataukah ada tujuan tertentu? Apakah hidup saya ini signifikan?

Pertanyaan ini membuat saya berpikir tentang masa lalu. Kembali ke masa setelah saya dilahirkan. Saya ingat bahwa orangtua saya mengajarkan saya berjalan, berbicara, berpakaian, makan, minum, dan sebagainya. Lalu mereka menyekolahkan saya di TK. Saya pun menurut, meskipun akhirnya saya lebih suka bermain daripada berangkat sekolah. Dan saat umur saya 6 tahun, saya pun disekolahkan di sekolah dasar (SD). Kali ini saya juga menurut. Saya pun mengikuti kegiatan sekolah ini sampai kemudian saya lulus. Dan setelah lulus, saya pun masuk ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Setelah tiga tahun menempuh SMP, saya pun lulus dan melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA). 3 tahun kemudian, saya akhirnya juga berhasil lulus SMA. Kemudian saya pun memilih jurusan untuk kelanjutan studi saya di perguruan tinggi. Karena kebetulan saya gemar dengan komputer, saya memilih jurusan Teknik Informatika dan berhasil menjadi mahasiswa jurusan ini. Ya, saya masih menuruti alur ini. Alur yang memang kebanyakan orang juga menempuh dengan jalan ini. Saat ini status saya masih mahasiswa. Dan saya pun berpikir, setelah saya lulus nanti, apa yang akan saya lakukan? Mungkin saya akan melamar pekerjaan agar mendapat penghasilan untuk kehidupan saya sendiri. Lalu setelah punya penghasilan yang mencukupi, saya mungkin akan menikah. Setelah menikah, mungkin saya akan memperoleh anak. Lalu anak saya juga mungkin akan menjalani pola kehidupan yang sama dengan saya. Kemudian mungkin setelah saya tua, kemudian saya akan mati.

Kembali lagi ke saya saat ini. Saya sudah sejauh ini menjalani hidup. Saya sudah menjalani pola hidup sebagaimana yang kebanyakan orang jalani. Dan nantinya saya akan mengikuti pola ini sampai kemudian saya akan mati. Tapi ini tetap membuat saya bingung. Apa yang sebenarnya sedang saya lakukan? Kenapa saya harus mengikuti pola ini? Apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari kehidupan yang saya jalani ini? Apakah untuk memperoleh uang? Memangnya untuk apa saya memiliki uang? Untuk menghidupi keluarga? Kenapa juga saya harus berkeluarga? Apakah untuk sekedar bereproduksi? Lalu kenapa saya harus bereproduksi? Bukankah pada akhirnya anak keturunan saya juga kemudian menjalani pola yang sama seperti apa yang saya jalani dan ini berulang terus menerus entah sampai kapan? Kalau kehidupan saya hanya seperti ini apa artinya saya sampai perlu diciptakan dan kemudian masih hidup hingga hari ini? Kenapa saya tidak mati saja? Oh ya, katanya bunuh diri itu kan tidak diperbolehkan? Kalau memang tidak boleh, lalu mengapa saya harus tetap diberi kehidupan? Apa pentingnya hidup saya sebenarnya? Kenapa sampai Allah repot-repot menciptakan saya dan membiarkan saya hidup kalau ini hanya sekedar formalitas?

Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menyadarkan saya bahwa bisa jadi kehidupan saya ini memiliki peran penting. Bisa jadi saya memang dibiarkan tetap hidup hingga hari ini karena saya harus melakukan sesuatu. Tapi apa itu? Apa sebenarnya MISI dari diciptakannya saya? Oh, lalu saya berpikir, jika manusia dibagi atas dua kelompok, baik dan jahat, dimanakah peran kehidupan saya? Wah, jangan sampai saya ini ditakdirkan berperan masuk kedalam kelompok yang jahat. Saya harap saya masuk kedalam kelompok orang-orang yang baik. Tapi apa ini hanya sekedar harapan? Hmmm, saya pikir saya harus melakukan sesuatu, sesuatu yang membuat saya termasuk kedalam kelompok yang baik, bukan yang jahat. Tapi berbuat baik yang seperti apa? Untuk bisa menjawabnya saya pikir saya butuh petunjuk. Oh, mungkin hal-hal yang ada dalam diri saya bisa menjadi petunjuk tentang apa yang mungkin sebaiknya saya lakukan dengan hidup saya. Saya menyukai dunia seni, teknologi, juga bidang sosial, terutama bidang pendidikan. Hmmm,, mungkin saya harus memutuskan sendiri apa misi hidup saya. Ya, saya putuskan bahwa hidup saya adalah untuk bisa membangun sebuah sekolah. Sekolah yang suatu saat nanti akan mengubah cara pandang seseorang tentang apa itu pendidikan. Sekolah yang membebaskan muridnya dalam meraih cita-citanya. Sekolah yang dibangun untuk tujuan mendidik bukan sekedar memberikan ijazah. Ya, inilah tujuan hidup saya.

Setelah kini saya sudah memiliki tujuan hidup, lalu apa yang harus saya lakukan? Hmmm, berarti segala sesuatu yang saya lakukan adalah untuk tujuan mewujudkan misi hiduo saya tadi. Saya kuliah untuk memperoleh ilmu agar nanti dapat memiliki pekerjaan. Oh, tapi saya rasa saya lebih suka membuat usaha sendiri. Ya, lewat usaha ini, saya akan mengumpulkan uang guna membangun sekolah yang saya impikan. Dan kemudian saya juga akan membagikan cerita tentang misi hidup saya ini ke teman-teman saya. Mungki saja ada diantara mereka yang bisa membantu saya mewujudkannya. Saya juga akan menikahi wanita yang kemudian dapat membantu saya mewujudkan misi ini. Yang dapat mendukung saya melaksanakan misi hidup saya, begitu juga saya mampu membnatunya mewujudkan misi hidupnya. Kemudian anak-anak saya juga hadir ke bumi untuk membantu saya mewujudkan mimpi ini. Bahkan bisa jadi mereka mampu mengembangkan misi ini menjadi jauh lebih besar dan lebih baik lagi. Dan saat saya meninggal nanti, entah saya berhasil atau tidak menjalankan misi ini, saya sudah puas. Karena saya tahu bahwa saya telah memanfaatkan hidup saya untuk sebuah misi. Dan saya tidak merasa hidup saya hanya sekedar formalitas lagi. Saya telah meyakinkan diri saya bahwa hidup saya telah bermakna. Setidaknya bagi diri saya pribadi.

Ketiadaan tujuan dalam hidup, mungkin itulah yang membuat banyak manusia gelisah dalam hidupnya. Ia susah payah mencari uang, kemudian ia gunakan untuk menghidupi keluarga. Tapi sebenarnya ia tidak benar-benar paham kenapa harus melakukannya. Bagaimana jika seandainya manusia sudah mencari misi hidupnya selagi ia masih kecil? Bagaimana seandainya jika mereka sudah memiliki tujuan hidup tanpa perlu menunggu tua untuk menyadari betapa pentingnya hidup mereka. Bukankah dengan demikian, segala ilmu yang ia pelajari, semua kawan yang ia temui, semua jalan yang ia tempuh adalah kemudian untuk bisa mewujudkan misi hidupnya. Bukankah dengan demikian ia akan selalu memiliki alasan untuk tetap hidup dan melanjutkan misinya? Bukankah berarti ia tidak lagi perlu merasa bahwa hidupnya tidak lagi berguna? Oh, mungkin inilah salah satu poin penting kehidupan. Beruntunglah orang-orang yang memilikinya.

“Jika hidupmu hanya sekedar untuk mempertahankan diri agar tidak mati, tidak akan ada bedanya kamu mati hari ini atau besok.”

Advertisements

16 thoughts on “Hidup Itu?

  1. Muslim? Klo mau simple dan mencakup, pakek sebuah ayat dari salah satu Surat Cinta-Nya di Adz-Dzariyat :

    “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”

    (TQS 51:56)

    1. sebenernya aku udah bikin tulisan tentang sekolah impian versi aku. cuman masih kurang begitu terstruktur. mungkin dalam waktu dekat pengen aku publish disini.

      oh ya, salam kenal ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s