Saya terlahir sebagai anak ke-5 dari 8 bersaudara. Namun saya sempat merasakan waktu yang cukup lama sebagai anak bungsu. Saya baru memiliki seorang adik saat usia saya 5 tahun. Keluarga kami memang bukan keluarga kaya, kami hanya keluarga sederhana dimana saat saya masih tinggal di Jakarta, ayah saya bekerja sebagai pegawai PLN dengan gaji yang tidak seberapa. Saat itu, saya adalah anak bungsu. Sebagai anak bungsu (saat itu), saya termasuk anak yang manja. Saya selalu meminta orang tua saya untuk membelikan saya mainan. Hari-hari saya selalu saya lewatkan dengan berbagai macam mainan. Bahkan, saat saya seharusnya sekolah TK, saya malah lebih sering membolos untuk pergi ke lapangan sekolah di dekat rumah saya yang terdapat banyak penjual mainan anak-anaknya. Inilah yang kemudian menyebabkan saya tidak tamat TK dan sampai sekarang tidak memiliki ijazah TK.

 

Sebagai anak yang manja dan rewel, saat permintaan saya tidak dituruti oleh orangtua saya, saya akan menangis kencang dan marah kepada orangtua saya. Namun hebatnya, kedua orangtua saya bukanlah tipe orangtua yang diktator, yang akan menyiksa anaknya saat mereka rewel. Ayah saya pernah marah memang, namun saya rasa itu masih pada batas yang wajar. Justru, orang tua saya terutama ibu saya lebih memilih untuk memahamkan saya daripada memarahi saya. Ibu saya selalu memberikan saya penjelasan kenapa beliau tidak menuruti keinginan saya. Beliau menceritakan pada saya tentang keadaan keluarga sehingga tidak memungkinkan untuk menuruti keinginan saya. Namun dasar saya ini akan yang rewel, saya tidak pernah mau mempedulikan hal itu. Dan biasanya ibu saya akan diam dan tidak berbicara pada saya untuk memahamkan saya. Inilah poin penting pelajaran buat saya. Ibu saya telah secara tidak langsung melatih kepekaan dan sikap empati kepada saya. Ibu saya melatih saya untuk mau memahami kondisi keluarga. Sebuah pelajaran penting yang kini sangat saya rasakan manfaatnya. Sebuah pelajaran yang diberikan tanpa melalui perintah maupun paksaan. Mungkin saat itu saya tidak berpikir sampai seperti ini. Saat itu biasanya saya hanya akan terus menangis sampai lelah. Dan setelah itu saya hanya bisa pasrah karena tahu ibu saya tetap diam saja. Dan ini menyadarkan saya kalau tangisan saya tidak perlu dilanjutkan karena akan percuma saja. Saat itu saya berpikir kalau memang saya terpaksa harus mau mengalah. Saya menyebut cara mendidik ini dengan pendidikan lewat kasih sayang.

 

Cara mendidik semacam ini kini telah menyadarkan saya tentang banyak hal. Kini saya menjadi pribadi yang lebih bisa menahan ego dan emosi. Kenakalan saya dulu dan sikap orang tua saya dalam menghadapinya telah membuat saya sadar bahwa saya harus bisa memahami perasaan orang lain. Saya harus memahami kondisi yang sedang terjadi. Saya harus bisa mengerti bahwa mengalahkan egoisme itu penting. Hal-hal semacam ini memang baru saya pahami saat saya sudah beranjak dewasa. Yang menjadikan ini luar biasa adalah karena saya baru menyadari bahwa orangtua saya selama ini telah begitu sabar untuk tidak memarahi saya demi mengajarkan kepada saya tentang pelajaran berharga ini. Mereka telah begitu sabar menahan emosinya untuk bisa memahamkan diri saya. Mereka mengajarkan saya dengan kasih sayang, bukan emosi dan amarah. Mungkin keberhasilannya baru terasa setelah saya dewasa, tidak instan begitu saja. Namun pelajaran ini telah tertanam kuat di diri saya saat ini.

 

Mungkin akan berbeda hasilnya jika dulu saya dididik dengan cara yang keras dan penuh paksaan. Saat orangtua mendikte apa yang seharusnya seorang anak lakukan, maka belum tentu si anak akan merasa nyaman dengan hal ini. Saat orangtua mendidik anaknya dengan kekerasan dan hukuman, bisa saja membuat si anak merasa trauma dan mungkin akan berakibat buruk terhadap sikap si anak kepada orang lain. Jika orangtua memposisikan dirinya lebih tinggi dan berkuasa daripada anaknya, maka anak akan cenderung menjaga jarak dengan orangtuanya. Anak mungkin akan cenderung lebih tertutup kepada orangtuanya. Jika orangtua bersikap diktator kepada anaknya sendiri, ia akan banyak memaksa dan menekan anak mereka dalam menjalankan hidupnya. Pendidikan seperti ini mungkin punya nilai positif di beberapa hal, namun saya rasa saya tidak akan cocok jika dididik dengan cara ini. Pendidikan dengan kebaikan dan kasih sayang akan mendekatkan si anak dengan orangtuanya. Hubungan mereka akan menjadi lebih dari sekedar orangtua dan anak, namun juga seperti sahabat yang saling memahami satu sama lain. Saat salah satu berbuat kesalahan, maka yang lain harus berusaha memahaminya, bukan menghukumnya.

 

Benar memang, mendidik lewat kebaikan dan kasih sayang akan jauh lebih mengena dibandingkan dengan lewat kekerasan dan hukuman. Setidaknya untuk saya pribadi. Kini saya lebih bisa memahami tentang arti empati kepada orang lain. Setiap ada permasalahan, saya akan berusaha memposisikan diri saya sebagai orang lain untuk bisa memahami perasaan orang lain dan menemukan solusi yang tepat. Saya menjadi mampu menjaga diri saya dari emosi yang justru dapat memperburuk masalah. Saya menjadi paham arti penting mengalah demi kebaikan bersama. Semua hal ini saya peroleh berkat cara orangtua saya mendidik diri saya. Kebaikan dan kasih sayang mereka telah ditularkan pada saya. Kini saat orangtua saya meminta bantuan dari saya, saya akan merasa sangat sulit untuk menolaknya. Bagaimana mungkin saya bisa menolak permintaan tolong orang yang telah begitu baiknya kepada saya? Saya justru sering merasa bersalah saat tidak bisa memenuhi permintaan tolong kedua orangtua saya. Saya tidak tega saat harus mengecewakan mereka. Inilah yang kemudian membuat saya juga berusaha menjadi pribadi yang mampu bersikap baik kepada orang lain untuk kemudian juga diharapkan dapat menularkan kebaikan ini ke orang lain.

 

PS: Abi dan umi, anakmu yang dulu manja dan rewel ini sekarang sudah berusia 21 tahun. Sudah dewasa dan bisa membedakan mana hal yang baik dan mana yang buruk. Terimakasih atas berbagai pelajaran berharga yang telah umi dan abi berikan padaku. Terimakasih telah begitu sabar memelihara dan mendidik anak yang begitu merepotkan ini. Terimakasih atas kebaikan, kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa banyaknya. Terima kasih atas jutaan hal lain yang tidak mungkin bisa dituliskan disini. Terimakasih yang sangat banyak, yang tak terhingga. Maafkan juga anakmu ini atas berbagai perilaku nakal yang telah aku lakukan. Yang telah membuat abi dan umi harus bekerja begitu berat agar bisa memenuhi keinginanku yang tiada habisnya. Maafkan anakmu ini.

Advertisements

2 thoughts on “Mendidik Kebaikan

  1. Tidak punya ijazah TK (*ijin tertawa ha ha ha)

    saya setuju, orang tua bukan hanya sebatas hubungan orang tua anak (yang tua dan yang anak-anak) tapi kombinasi persahabatan yang menyenangkan karena memiliki dua dunia (baca : jaman) berbeda dengan prinsip yang sama…

    1. makasih udah follow. 😀

      hehe, emang dulu bandel banget sih, sampe di-DO sama TK.

      iya sepakat. untung orangtua saya sudah begitu hebatnya memelihara saya yang bandel ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s