Pemimpin itu soal jiwa, bukan jabatan
Pemimpin itu soal jiwa, kawan. Bukan jabatan

Beberapa status facebook saya sempat berbicara tentang kepemimpinan. Mungkin ada yang mengira ini bentuk sindiran ke pihak tertentu. Padahal bukan. Eh tapi benar juga sih. Sebenarnya ini lebih cocok dikatakan saya menyindir diri saya sendiri. Bukan sindiran sih tepatnya. Hanya mengingatkan diri ini agar tidak lupa. Kira-kira ini beberapa status saya yang membahas masalah kepemimpinan.

“pemimpin itu memimpin, kalo cuma menyuruh-nyuruh itu majikan namanya” (12 likes :D)

“hai nak, buat apa kamu terlihat berwibawa dan dihormati di depan umum, tapi sebenarnya dalam hatinya, mereka membencimu. pemimpin itu soal jiwa, kepribadian, sikap. bukan status.” (9 likes :))

“belajar mau menurunkan ego, belajar untuk mengalahkan gengsi, memahami perasaan orang lain, mau mengakui kekurangan. sesungguhnya kebersamaan, kekompakan, itu sama pentingnya dengan kesempurnaan hasil.” (7 likes :))

Buat saya, kalau untuk sekedar memperoleh jabatan sebagai pemimpin, semua orang bisa melakukannya. Apalagi dengan sistem pemilihan yang bisa dimanipulasi seperti yang terjadi di banyak Pilkada. Dengan bantuan uang yang banyak, seseorang yang bahkan tidak pernah kita tahu itu siapa bisa saja menjadi pemimpin kita. Tapi sayangnya, ia hanya akan menjadi pemimpin secara struktural. Ini hanya pemimpin semu bagi saya. Karena sebenarnya saya tidak merasa dipimpin olehnya.

Pemimpin bagi saya adalah ia yang dengan atau tanpa jabatan struktural pun akan tetap diikuti oleh orang lain. Ia dihormati dan disegani karena sikapnya, karena pribadinya, karena jiwanya. Bukan jabatan strukturalnya. Ia menginspirasi dan memotivasi orang lain, bukan mengintimidasi orang lain dengan kekuasaanya. Ia melakukan segala sesuatu karena ia paham kalau dirinya diciptakan untuk berbuat baik kepada orang lain, bukan untuk menguasai orang lain. Orang lain mengikutinya, menuruti perintahnya, mau sama-sama bekerja keras dengannya karena orang-orang ini mengagumi sosoknya, bukan karena takut akan hukuman darinya. Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin ada di dalam hati mereka, bukan pada struktur. Pemimpin seperti ini akan dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya, karena mereka pada dasarnya adalah setara.

Menjadi pemimpin yang semacam ini tidak mudah. Kita harus benar-benar bisa memahami orang lain. Kita harus mau mengerti segala kekurangan orang lain. Kita harus bisa menghargai orang lain. Kita harus mampu menempatkan orang lain pada tempat yang tepat. Seorang pemimpin harus mau menurunkan egonya demi memahami orang lain untuk kemudian bersama-sama mewujudkan visinya. Ia memahami kalau tanpa tim yang solid, visinya tidak akan bisa tercapai. Ia paham kalau dirinya dan orang lain itu sama pentingnya. Ia sadar kalau ia tidak lebih baik dari orang lain hanya karena jabatannya. Kesalahan orang lain tidak akan membuat pemimpin semacam ini bertindak semena-mena. Ia justru akan mencari cara memperbaiki kesalahan ini dan membantu orang yang melakukan kesalahan agar tidak merasa tidak berguna. Ia pemimpin yang mau memahami kalau karakter manusia berbeda-beda, dan tak mungkin bisa menyamakan setiap manusia. Ia mampu memotivasi orang-orang untuk percaya akan keberhasilan mimpi mereka bersama. Ia mampu menyemangati orang lain dan membuat mereka optimis dalam mencapai tujuan. Ia pemimpin yang mau mengalah demi kebaikan bersama. Ia memahami kekurangan dan kelebihan dari setiap individu dalam tim. Ia mampu memanfaatkan kekurangan dan kelebihan orang lain dalam mewujudkan visi. Selain itu, ia tidak merasa harus dihormati karena statusnya. Ia tidak merasa dirinya harus diperlakukan istimewa. Bahkan, ia harusnya lebih mempedulikan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Saya mungkin bukan tipe orang yang seperti ini. Namun saya rasa, semua orang perlu untuk berusaha menjadi pribadi yang seperti ini. Bukan agar mereka bisa mengejar jabatan pemimpin. Karena sebenarnya dengan menjadi pribadi yang baik, jabatan bukan lagi hal yang penting. Ketua, Pimpinan, bahkan Presiden itu cuma jabatan struktural. Jiwa kita yang menentukan siapa kita sebenarnya. Mudah-mudahan kita selalu bisa memiliki kepribadian seorang pemimpin.

“Pemimpin itu soal jiwa kawan, bukan jabatan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s