Kalau selama bulan Juli 2011 ini kamu mencari-cari saya di Surabaya, niscaya kamu tidak akan berhasil. Bahkan sekalipun kamu mencarinya menggunakan teknologi yang sangat canggih. Tapi siapa memangnya yang bulan Juli ini mencari-cari saya di Surabaya? Mana saya tahu, karena memang saya sedang berada di kota yang namanya bukan Surabaya. Satu bulan terakhir ini, saya sedang berada di ibunya Surabaya, ya di ibukota yang diberi nama Jakarta, entah siapa yang memberinya nama. Kota yang disebut ibukota padahal kita tidak pernah tahu siapa ayahnya. Mungkin dia hamil sebelum menikah, atau mungkin sudah bercerai. Ah, siapa peduli. Oh iya, saya selama sebulan memang harus berada di Jakarta untuk menunaikan ibadah kerja praktek (KP), atau juga disini sering disebut praktek kerja lapangan (PKL, seperti pedagang kaki lima saja). Dan perusahaan beruntung yang sempat merasakan kehadiran saya adalah Bank Indonesia (BI), atau sebut saja Bang Indonesia, biar lebih akrab.

Tapi saya tidak akan membahas tentang kegiatan saya selama kerja praktek, karena memang tidak banyak yang saya kerjakan, eh, maksudnya tidak perlu lah kamu pusing-pusing ikut pengen tahu kerjaan saya disana (lupakan saja yang kalimat pertama). Saya akan sedikit bercerita tentang Jakarta yang sedang mengandung seorang Ibrahim Musa selama satu bulan ini. Biar lebih enak, cerita saya dimulai dari paragraf berikutnya saja, dan rasanya itu lebih rapi.

Jakarta bukanlah kota yang asing buat saya. Kalau kamu sedang berada di Jakarta antara tahun 1991 sampai 1998, mungkin kamu pernah melihat saya di kota ini. Iya, saya memang tinggal di kota ini saat itu. Saat saya masih kecil, masih suka nangis, masih suka minta dibelikan jajanan dan mainan ke ibu saya, masih suka nakal corat-coret tembok, masih suka rewel minta dibelikan SEGA, yah pokoknya masih seperti anak-anak lah. Dulu ayah saya memang bekerja di Jakarta, di PLN (Perusahaan Listriknya Negara). Oh, ayah saya yang idealis sekali, dia yang tidak mau memilih Golkar saat Pemilu sehingga karirnya tidak mengingkat-meningkat dan dikucilkan dari pergaulan para karyawan. Dia juga yang tidak mau menerima uang korupsi yang saat itu cukup marak, atau mungkin sampai sekarang ya? Saya tidak tahu. Dia juga yang akhirnya lebih memilih punya rumah kecil, gaji kecil, padahal anaknya ada 8 (eh, tapi waktu itu masih 7 sih), tapi semua hasil keringat sendiri yang halal, bukan hasil mencuri, sekalipun semua orang melakukannya. Sampai akhirnya ayah saya memilih untuk pindah bekerja di perusahaan swasta di Probolinggo, Jawa Timur, dibandingkan bekerja dengan banyak godaan untuk berbuat yang tidak baik. Waw, sangat membanggakan sekali menjadi anak seorang yang begitu punya pendirian dan tidak mudah terpengaruh. (Wah sepertinya saya harus menulis tentang ayah saya nanti)

Oh iya, kembali ke topik utama, tentang kota Jakarta. Yang saya ingat saat kecil di Jakarta dulu itu banjir, dimana saya sampai harus mengungsi ke rumah saudara saya saat banjir masuk ke rumah saya. Selain itu makanan-makanan di kota ini juga cukup saya suka, rasanya cocok sekali dengan lidah saya, seperti misalnya ketoprak, bubur ayam. Selain itu di Jakarta juga sudah ada banyak mall sejak saya kecil dulu, selain itu Dufan itu sudah ada sejak saya kecil dulu (yang ini norak banget, padahal semua juga udah tau), macet itu juga sepertinya sudah ada sejak lama, tapi saya agak lupa, karena dulu saya jarang jalan-jalan, lebih suka maen-maen di deket rumah.

Setelah saya pindah ke Jawa Timur, sebelum saya kerja praktek (KP) ini, saya hanya sempat kembali ke Jakarta sekitar dua kali, itupun hanya sebentar. Barulah saat KP ini saya benar-benar merasakan kembali ke Jakarta. Selain karena saya memang sempat kembali main ke rumah lama saya di Pluit, saya merasa kembali ke Jakarta karena saya disini tinggal cukup lama (sebulan). Saya kembali merasakan masakan-masakan yang sudah sejak lama lidah saya tidak merasakannya lagi. Saya juga mulai teringat kembali dengan suasana-suasana masa kecil saya yang meskipun tidak se-modern saat ini, tapi sangat menyenangkan.

Oh iya, saya ingin menceritakan perbedaan Jakarta yang saya datangi saat ini, dengan saat saya kecil dulu. Sepertinya Jakarta saat ini sudah banyak berubah. Meskipun macet, banjir dan ramainya masih tetap ada, seolah ingin tetap menjadi ciri khas Jakarta. Tapi rasanya sekarang lebih parah. Kamu bisa dengan mudah menemukan macet di Jakarta. Sepertinya si macet memang tidak pandai bersembunyi. Kalau banjir saya tidak sempat melihat, karena memang saat saya disitu bukan sedang musim sering hujan. Kalau ramai, rasanya Jakarta sudah semakin ramai, apa jangan-jangan karena banyak yang pada datang ke Jakarta untuk melihat saya? ah rasanya tidak deh, tapi bisa jadi juga betul :D.

Satu hal yang cukup menarik tentang Jakarta menurut saya adalah angkutan umum. Disini angkutan umum sangat banyak dan cukup mudah untuk ditemukan. Ada berbagai alternatif transportasi umum disini. Mulai dari yang murah sampai yang sangat mahal. Ada kopaja, metro mini, angkot, bajaj yang legendaris, taksi tarif bawah dan atas, ada busway yang fenomenal, ada juga kereta api listrik (KRL), ada juga ojek, dan rasanya masih banyak lagi. Kalau di Surabaya, saya sering sekali kesulitan dalam mencari angkutan umum. Dan kalaupun ada pasti ngetem-nya sangat lama, karena memang jarang yang mau naik angkutan umum di Surabaya. Dan alternatif yang cepat hanya tinggal taksi, tapi tarifnya tidak sesuai dengan kantong mahasiswa seperti saya. Di Jakarta, angkutan umum yang paling menarik buat saya adalah busway. Busway memiliki konsep angkutan umum yang cukup baik. Dengan adanya jalur tersendiri, maka angkutan ini tidak akan terkena macet. Meskipun direncanakan untuk mengurangi pengggunaan kendaraan pribadi, tapi sepertinya pengguna busway kebanyakan memang bukan pemakai kendaraan pribadi, tapi juga pengguna angkutan umum, sehingga kemacetan tetaplah menjadi unsur yang kuat dari Jakarta. Selain itu, tarif busway juga relatif murah, hanya 3500 sekali jalan. Sepertinya model angkutan ini perlu diterapkan juga di Surabaya.

Satu hal yang saya perhatikan dari kota Jakarta selama KP, rasanya budaya konsumerisme di Jakarta sangat tinggi. Saya pikir awalnya Jakarta Fair, atau disebut juga Pekan Raya Jakarta, adalah semacam acara pameran pertunjukan budaya atau semacamnya. Tapi ternyata hanyalah sekedar ajang sale produk-produk branded. Ya, saya cukup menyesal datang ke acara ini, yang saya temukan hanya barang-barang yang sebenarnya di mall juga ada banyak, dan harganya juga ternyata tidak jauh berbeda. Namun banyak sekali yang mengunjungi acara seperti ini. Sepertinya budaya konsumerisme menyihir mereka untuk menghabiskan uangnya disini. Untunglah saya tidak membawa segumpal uang, sehingga saya hanya membeli beberapa aksesoris untuk oleh-oleh 3 adik saya yang lucu lagi baik.

Budaya konsumerisme ini juga sepertinya menimbulkan kecemburuan yang cukup tinggi dari para penduduk Jakarta yang berekonomi lemah. Mungkin inilah yang membuat tingginya tingkat kriminal di Jakarta. Saya juga sempat merasakan tindakan pemalakan saat saya baru beberapa hari di Jakarta, namun untungnya saya masih beruntung, karena tidak kehilangan apapun. Saya bisa memahami kenapa banyak orang yang sampai rela berbuat jahat kepada orang lain untuk mendapatkan uang disini. Kehidupan disini cukup keras, penduduk Jakarta begitu banyak, namun jumlah lapangan pekerjaan sangat terbatas sedangkan biaya hidup disini cukup tinggi. Namun begitu banyak juga penduduk Jakarta yang begitu kaya-raya dan memperlihatkan budaya konsumerisme yang begitu tinggi. Mungkin inilah yang membuat mereka cemburu, mereka merasa orang-orang seperti itu tidak pernah peduli kepada nasib orang-orang miskin seperti mereka. Mungkin inilah yang menyebabkan mereka tega berbuat kriminal dan bahkan sampai harus melukai orang lain. Kehidupan disini begitu kejam pada mereka, maka mereka merasa wajar berbuat kejam pada orang lain. Saya bisa memahami keadaan mereka, meskipun saya tetap tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan. Seharusnya ini tugas pemerintah untuk dapat memberikan kehidupan yang layak pada setiap penduduk, namun kamu tahu lah kalau pemerintah kita tidak bisa diandalkan. Oh, sepertinya PR kita untuk memperbaiki kondisi kehidupan di bumi ini masih banyak. Ini baru satu kota, belum di seluruh dunia.

Oh, rasanya sudah terlalu banyak saya bercerita disini, saya rasa sudah cukup sampai disini. Yang jelas satu bulan petualangan saya di Jakarta sangatlah berkesan. Ini mengembalikan kenangan masa kecil saya, saya juga mendapatkan banyak pengalaman baru, termasuk pengalaman sakit demam berdarah dan menginap di rumah sakit, saya juga berkenalan dengan kawan-kawan baru di tempat saya kerja praktek, saya juga melihat berbagai sisi kehidpuan manusia disini, dan masih banyak lagi.

“Hei Jakarta, bukannya saya tidak suka dengan kamu, tapi rasanya Surabaya sudah merindukan kehadiran saya. Tidak perlu bersedih, suatu saat juga saya akan kembali ke kota ini, kota masa kecil saya. Terimakasih atas petualangannya”

Advertisements

2 thoughts on “Hei Jakarta !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s