smile
smile

Setelah ternyata postingan kemarin begitu menyenangkannya, karena postingan bermodel self interview (wawancara diri sendiri) itu unik sekali. Dan saya rasa untuk beberapa postingan kedepan saya akan menggunakan model postingan macam ini. Dan perbedaanya dengan postingan kemarin, kali ini ada satu tema khusus dalam wawancara ini. Untuk edisi ini saya akan membahas tentang “senang”.

m: musasyihab (saya sebagai penanya)
I: Ibrahim Musa (saya sebagai yang ditanya alias narasumber)

m: Kamu ini kok setiap hari selalu kelihatan ceria dan ga pernah sekalipun aku liat kamu sedih atau minimal stres lah..
I: Ya memang beginilah saya. Saya adalah orang yang selalu ceria. Dan kalau kamu liat saya sedang sedih kamu mesti cek lagi, apa bener itu saya atau bukan. Karena kemungkinan besar kamu salah orang.

m: Wow! Kenapa bisa begitu?
I: Jujur, saya ini manusia normal, pasti saya juga pernah sedih. Saya ini begitu sedih kalau melihat ada orang yang menderita, saya juga sedih kalau melihat foto-foto perang, saya juga sedih melihat ada orang-orang yang diperbudak dan disiksa. Banyak hal yang bisa membuat saya merasa sedih. Namun saya rasa memperlihatkan kesedihan bukanlah hal yang berguna.

m: Hmmmmm.. Kalau sedih karena alasan pribadi pernah tidak?
I: Memang hidup saya tidak lah selalu menyenangkan seperti apa yang saya inginkan. Tapi kalau sampai harus bersedih saya rasa belum pernah saya sedih karena kejadian-kejadian pribadi dalam hidup saya.

m: Dapet nilai jelek, atau harus mengulang mata kuliah. Masa kamu tidak sedih?
I: Kalau cuma karena hal sepele macam itu, tidak akan membuat saya merasa sedih. Hal-hal seperti itu memang tidak menyenangkan. Tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun hal tersebut bukanlah hal yang buruk. Masih banyak hal lebih buruk yang bisa terjadi.

m: Apa yang bisa membuat kamu tenang-tenang aja menghadapi hal-hal kayak tadi itu?
I: Banyak. Salah satunya yang paling utama adalah mencari hal baik dari kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan kayak tadi. Misalnya gini, kalau saya dapet nlai jelek dan harus mengulang mata kuliah, saya akan berpikir kalau hal itu bakal menjadi semacam konflik-konflik dalam hidup saya. Saya anggap hidup saya ini seperti sebuah film. Semakin berat tingkat konfliknya, maka film itu akan semakin seru. Kalau saya hidup ini lancar-lancar saja dan tidak ada rintangannya, pasti saat saya sukses nanti dan ada yang tertarik untuk mengangkatnya kedalam sebuah buku atau film, maka buku atau film itu tidak akan menarik tanpa adanya konflik. Kejadian-kejadian buruk dalam hidup sebenarnya adalah semacam bumbu yang membuat kisah hidup kita lebih menarik. Dengan berpikir demikian, saya merasa tetap bisa tenang sekalipun hal-hal tidak menyenangkan harus saya alami. Dan untuk kasus mengulang mata kuliah, sebenarnya solusinya kan gampang, ya tinggal kita ulang saja itu mata kuliah, karena memang kalau sudah harus mengulang ya lakukan saja. Sedih tak akan mengubah nilai jelek menjadi bagus. Tinggal kita lakukan saja apa yang memang harus dilakukan.

m: Kalau untuk kalah lomba, kamu kan sering tuh, itu bikin kamu sedih ga?
I: Hahahaha, kamu tau aja kalo aku sering kalah lomba.

m: Lha kita ini kan satu orang yang sama, masa aku ga tau apa aja yang terjadi sama kamu.
I: Hehe, oh iya ya. Kalo untuk lomba justru saya merasa beruntung sering merasakan yang namanya kalah.

m: Lho kenapa?
I: Kekalahan demi kekalahan membuat saya semakin terbiasa untuk mengalami hal itu. Sehingga saat saya kalah lagi dalam sebuah lomba saya sudah tau rasanya dan sudah terbiasa dengan itu. Jadi saya tidak perlu merasa sedih atau kecewa, karena memang biasanya kan juga saya kalah. Dan seandainya saya menang, rasanya akan jauh lebih menyenangkan dan memuaskan saat kamu menang setelah mengalami banyak kekalahan daripada terus menerus menang. Dan satu hal lagi yang membuat saya tetap percaya diri adalah saya selalu merasa saya ini hampir menang. Misalnya ada 10 besar yang lolos ke final lomba dan saya tidak termasuk didalamnya, saya selalu merasa saya adalah orang yang kesebelas yang hampir saja meraih tiket ke final. Begitu pula dengan juara, saat ada 3 juara saya selalu merasa pasti saya ini ada di urutan ke-empat dan hampir saja meraih predikat juara. Jadi saya tidak pernah merasa menjadi pecundang, karena saya ini bukan kalah, hanya hampir menang saja.

m: Wow! Unik sekali. Ada  saran lain agar kita tidak hidup degan kesedihan?
I: Hmmm.. Menurut saya, hal yang paling manjur untuk mengatasi kesedihan adalah kepercayaan diri. Saya selalu percaya kalau saya ini semacam superhero yang diutus ke muka bumi. Saya selalu merasa diri saya ini adalah bagian penting dari dunia ini. Dan itu yang membuat saya selalu ceria dan bahagia. Karena seorang superhero seharusnya memang bukan orang yang cengeng. Dan kepercayaan diri ini yang membuat kita tidak takut melakukan kesalahan, kita juga tidak takut untuk bersikap, serta tidak takut pada hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Karena kalau pada diri sendiri saja kita sudah tidak percaya, maka sulit bagi kita untuk bisa percaya pada orang lain. Bukankan diri kita sendiri tidak akan pernah membohongi kita?

m: Iya juga ya. Hebat sekali cara berpikirmu.
I: Oh iya ada satu hal lagi. Untuk bisa tetap bahagia, kita harus menciptakan sendiri kebahagiaan itu. Kalau kita cuma menunggu datangnya kebahagiaan, kita tidak pernah tahu kapan itu datangnya. Kebahagiaan bisa diciptakan dari berbagai hal, misalnya untuk urusan bekerja, kamu bisa memutuskan untuk sekedar bekerja dengan terpaksa demi mendapatkan uang atau memilih melakukan hal-hal menyenangkan misalnya menjalankan hobimu kemudian menggunakannya untuk mencari uang. Kalau kamu memilih yang pertama, meskipun kamu mungkin akan dengan pasti medapatkan uang (yang mungkin saja jumlahnya besar), tapi kamu tetap akan sulit untuk merasa bahagia karena kamu bekerja dengan terpaksa. Tetapi jika kamu memilih pilihan kedua, sekalipun kamu tidak mendapatkan uang (atau mendapatkan uang tetapi sedikit), kamu akan tetap merasa bahagia, karena kamu menjalankan itu karena kamu memang menyukainya. Bahagia atau tidaknya hidup kita ditentukan oleh sikap kita sendiri.

m: Hey, bener juga omonganmu. Buat apa kita bersedih kalau masih ada banyak hal menyenangkan di dunia ini yang masih bisa kita lakukan.
I: Tepat sekali. Rasanya kamu sudah mulai berpikir seperti saya.

m: Hey, kan tadi aku sudah bilang kalo kita ini orang yang sama, hanya saja digunakan oleh si penulis blog ini seolah-olah dua orang yang berbeda untuk sekedar mengisi kekosongan blognya yang sepi dan jarang dikunjungi ini.
I: Hahaha. Iya iya. Kasian blog ini, pemiliknya kurang bertanggung jawab. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s