Setiap orang pasti punya satu masa yang sangat menarik dalam hidupnya. Dan buat saya, masa-masa di semester 6 saya sebagai mahasiswa inilah yang sangat berkesan dan spesial. Meskipun semester-semester sebelumnya juga punya kesan dan cerita tersendiri yang itu juga menyenangkan, tapi baru di semster ini saya menemukan sesuatu hal baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan kamu akan segera mengetahuinya setelah membaca paragraf berikutnya.

Sebelum semester 6 dimulai saya sebenarnya cukup khawatir dengan perjalanan saya di semester ini. Saya harus mengambil kembali cukup banyak mata kuliah semester 4 yang terpaksa harus saya ulang. Saya pikir saya harus bersiap-siap dicap sebagai “mahasiswa bodoh” oleh para junior. Tapi mau tidak mau saya harus menjalani semester ini dengan keadaan yang demikian. Beruntung saya juga mengambil mata kuliah Technopreneurship (gabungan dari kata technology dan entrepreneurship) yang kemudian menjadi awal bermulanya hal-hal menarik di semester ini.

Di mata kuliah Technopreneur ini, saya ditugaskan untuk membuat sebuah usaha dan menjalankannya. Karena pada masa liburan kemarin saya menghabiskan waktu dengan membuka lapak di kaskus dan menjual kemampuan desain saya, maka saya memutuskan untuk membuka usaha jasa desain. Meskipun sebenarnya saya bisa saja menjalankan usaha ini sendirian, tapi sepertinya saya masih membutuhkan beberapa orang teman untuk mengurusi masalah keuangan dan pemasaran. Dan akhirnya munculah usaha baru yang didirikan oleh saya dan empat orang kawan saya. Usaha jasa desain ini kami namakan Digsign. Disini bagian pekerjaan saya yang paling berat karena harus menangani pesanan desain sendirian (karena memang cuma saya yang punya kemampuan desain di kelompok saya ini). Tapi karena memang sebenarnya saya suka bagian pekerjaan ini saya tetap menjalankan usaha ini dengan senang hati. Dan seperti biasa, saya menetapkan tarif yang sangat murah untuk setiap pesanan, hanya berkisar antar 15 – 50 ribu rupiah. Padahal kemampuan desain saya sudah cukup baik, dan banyak usaha sejenis diluar sana yang mematok tarif dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil desain saya. Namun sekali lagi, karena ini adalah hobi saya, maka saya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Sambil menjalankan kesibukan di Digsign, saya mendapat berita baik lainnya. Satu dari 3 proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) saya lolos untuk didanani DIKTI. Dan proposal yang didanai ini adalah proposal program kreatif saya di bidang kewirausahaan. Dan proposal saya ini merupakan proposal untuk mendirikan sebuah usaha jasa olah foto dengan media web. Nama dari usaha ini adalah Fotomorfosa (gabungan dari kata foto dan metamorfosa). Wow, rasanya di semester ini saya seperti ditakdirkan untuk serius di bidang wirausaha dan bidang desain. Padahal kuliah saya di Jurusan Teknik Informatika. Tapi hal menarik di semester ini tidak berhenti sampai disini, karena kebetulan saya mengambil kembali mata kuliah pemrograman web (yang sebelumnya saya mendapat nilai D) maka saya mulai belajar kembali banyak hal tentang pemrograman web, terutama di bidang desain web yang merupakan bidang favorit saya. Dan kemampuan saya di bidang desain web ini saya praktekan untuk membuat web Fotomorfosa. Meskipun webnya belumlah seberapa bagus, namun hal ini banyak melatih kemampuan saya. Dan yang terpenting, hal ini membuat perasaan saya sebagai “mahasiswa salah jurusan” menjadi sedikit berkurang.

logo digsign dan fotomorfosa

Lewat dua usaha ini, nama saya menjadi cukup dikenal. Ini yang kemudian membuat salah seorang senior saya, pendiri Elventales (produsen game-game flash) untuk kemudian mengajak saya menjadi ilustrator pada game-game buatannya. Dan dari pekerjaan ini, saya mendapat gaji yang cukup besar buat saya. Dengan demikian berarti saya telah bekerja di 3 perusahaan sekaligus. Sebagai manajer produksi sekaligus founder di Digsign dan Fotomorfosa, juga sebagai ilustrator di Elventales.

Tiga kegiatan baru ini membuat saya mulai sibuk luar biasa. Saya sampai harus memotong waktu tidur atau bahkan seringkali tidak tidur sama sekali agar pekerjaan-pekerjaan saya bisa selesai. Tak hanya itu, saya juga menjadi cukup sering membolos agar saya bisa punya waktu untuk beristirahat dan kembali mengerjakan pekerjaan saya di malam harinya. Dari sini saya mulai tahu kenapa begitu banyak pengusaha yang memutuskan untuk menghentikan kuliahnya. Karena memang saya merasakan sendiri kalau sulit untuk bisa berwirausaha sembari kuliah, dan sepertinya memang ada satu hal yang perlu dikorbankan. Namun karena saya sudah berjanji kepada orangtua saya untuk bisa lulus, saya tetap mengusahakan untuk tetap menjalankan kuliah semaksimal yang saya bisa, sampai-sampai terkadang harus tetap kuliah setelah begadang semalaman dan terkadang juga harus titip absen ke teman sekelas saya agar saya tidak sampai harus mengulang.

Kesibukan saya ini terkadang memang sangat melelahkan, namun saya tetap menyukainya. Karena saya memang mencintai apa yang saya kerjakan. Bahkan, kondisi ini membuat saya menemukan satu moto hidup baru,

“Mati sebagai pekerja keras, atau hidup sebagai pemalas”.

Karena saya pikir bisa saja saya mati akibat kerja keras saya, namun itu lebih baik daripada hidup tetapi bermalas-malasan. Beruntung selama satu semester ini saya tidak sampai jatuh sakit, yang sebenarnya juga sedkit mengherankan saya, bagaimana bisa saya tetap sehat, padahal sering begadang, kadang lupa makan, kadang harus hujan-hujanan saat pulang larut malam.

Di semester ini saya juga mulai belajar hal-hal yang sebelumnya belum pernah saya bayangkan. Saya belajar bagaimana strategi berbisnis, saya juga mempelajari kehidupan dan pengalaman dari para pebisnis sukses, selain itu saya juga belajar bersabar saat terkadang saya harus bekerja begitu keras sendirian, saya juga belajar kalau menjaga kekompakan sebuah tim itu sulit, saya juga belajar kalau berbisnis itu tidak semudah yang saya bayangkan. Kita tidak bisa menjadi Bill Gates, Steve Jobs, Larry Page, Mark Zuckerberg dalam waktu singkat. Butuh berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk bisa meraih sukses. Bahkan studio animasi Pixar, baru bisa memperoleh laba pertamanya setelah bertahun-tahun. Steve Jobs juga harus dipecat terlebih dahulu dari Apple dan kembali lagi ke Apple beberapa tahun kemudian untuk bisa sesukses saat ini. Saya juga belajar kalau ternyata untuk bisa sukses perlu pengorbanan, baik itu waktu, uang dan juga nilai di kuliah. Saya juga belajar meningkatkan kepercayaan diri saya. Dan masih banyak hal lagi yang saya pelajari selama satu semester ini. Dan hal-hal ini sangatlah berharga. Jika suatu saat nanti saya telah berhasil meraih apa yang saya cita-citakan, maka perjalanan hidup saya di semster ini akan menjadi satu perjalanan yang sulit untuk saya lupakan.

Oh, sepertinya ada satu hal spesial lagi di semester ini. Tapi rasanya tidak semua hal spesial dalam hidup saya perlu kamu ketahui. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s