Ada satu orang yang benar-benar menarik perhatian saya selama satu minggu terakhir ini. Orang ini benar-benar membuat saya penasaran dan ingin mengetahui tentang dirinya lebih jauh. Orang ini juga yang tiba-tiba membuat saya menjadi rajin membaca. Siapa orang ini? Apakah “orang ini” adalah orang yang sama dengan yang ada di pikiranmu? Salah, bukan dia orang yang saya maksud, tapi orang ini adalah Steve Jobs.

Kesibukan saya di dunia wirausaha selama satu semester ini tiba-tiba membuat saya tertarik untuk membaca buku biografi Steve Jobs (yang sebenarnya sudah ada sejak lama di kamar kontrakan saya dan sudah pernah sekilas saya baca). Dalam waktu beberapa jam, buku ini berhasil saya baca hingga habis (meskipun ada beberapa bagian yang saya lewati). Tidak puas hanya membaca bukunya, tiba-tiba saya kembali ingin menonton film “Pirates of Silicon Valley” (yang bercerita tentang Steve Jobs dan Bill Gates) yang sebenarnya sudah pernah saya tonton. Tapi rasa penasaran saya tentang Steve Jobs belum habis, saya pun mencari informasi lebih jauh di dunia maya tentang pria yang disebut “anak ajaib” di industri komputer ini. Bahkan saya menemukan situs khusus yang menceritakan tentang biografinya dan berita-berita terbaru seputar dirinya. Tak cukup dengan kisah hidupnya, saya juga mulai mencari-cari video tentang gaya presentasi-nya yang konon katanya sangat memukau.

steve jobs
Steve Jobs, pendiri sekaligus CEO Apple

Banyak hal saya pelajari dari kisah hidup Steve Jobs. Kesuksesan Apple saat ini ternyata bukanlah sebuah kejadian kebetulan atau sekedar keberuntungan saja. Apple tidak sukses dengan tiba-tiba. Perjalanan Steve Jobs selama mengelola Apple juga tidaklah selalu bahagia. Saya akan menceritakan beberapa poin penting dalam kehidupan Steve Jobs dari apa yang saya baca.

Kepercayaan Diri

Sejak awal mendirikan Apple bersama Steve Wozniak, Jobs sudah sangat yakin kalau ia dapat menciptakan sebuah revolusi di dunia komputer. Ia sangat percaya bahwa dengan kemampuan kawan baiknya, Steve Wozniak dalam menciptakan komputer, mereka dapat mengalahkan perusaan IBM yang merupakan perusahaan raksasa di bidang komputer kala itu. Ia berhasil meyakinkan Wozniak, agar komputer ciptaan Wozniak dijual. Ia terus menumbuhkan kepercayaan diri Wozniak bahwa suatu saat mereka akan menciptakan sejarah. Salah satu ucapan jenius Jobs untuk meyemangati Wozniak saat itu adalah “Walaupun kita gagal nantinya, tapi setidaknya kita dapat menceritakan kepada anak cucu kita nantinya bahwa kita pernah memiliki perusahaan sendiri“. Jobs juga berhasil meyakinkan John Sculley, presiden Pepsi-Cola saat itu untuk bergabung bersama Apple. Ia mengatakan pada Sculley, “Anda ingin menghabiskan sisa hidup Anda menjual air bergula atau bergabung bersama saya dan mengubah dunia“. Kepercayaan diri Steve Jobs inilah yang kemudian banyak berpengaruh terhadap kesuksesan Apple saat ini.

Cinta

Dalam pidatonya di kelulusan Standford University pada 2005, Steve menceritakan kalau Cinta dan Kehilangan (Love and Lost) menjadi salah satu bagian penting yang mendasari kesuksesannya saat ini. Jobs sangat mencintai bekerja di Apple. Mimpinya untuk membuat revolusi di dunia komputer dan mengalahkan perusahaan sebesar IBM tidak pernah hilang sekalipun pada tahun 1985, ia dikeluarkan dari Apple, perusahaan yang ia dirikan sendiri. Ia tetap percaya bahwa ia dapat kembali ke Apple suatu saat nanti dan mewujudkan obsesinya. Kecintaannya pada Apple tidak pernah hilang. Dan ia membuktikan pada akhirnya ia berhasil kembali ke Apple di tahun 1997 dan menjadi CEO Apple di tahun 1998. Kalau saja ia putus asa saat dipecat dari Apple, tak mungkin ia menjadi CEO di perusahaan paling dikagumi di dunia (versi majalah Fortune tahun 1998).

Pantang Menyerah

Setelah kita mencintai betul apa yang kita kerjakan, maka satu hal yang juga penting adalah pantang menyerah. Dalam merintis sebuah usaha, akan selalu ada peluang untuk merugi disamping peluang untuk mendapat untung. Namun yang membedakan pengusaha idealis  dengan bukan adalah seorang pengusaha idealis tidak takut dengan resiko rugi, ia akan tetap berusaha keras membangun usahanya walaupun banyak waktu dan biaya yang harus dipertaruhkan. Begitu juga dengan kisah hidup Steve Jobs. Kalau saja ia menyerah saat melihat kegagalan beberapa produk Apple seperti Apple III, Apple Lisa, maupun Macintosh pertama, mana mungkin Apple tetap berdiri hingga hari ini. Idealisme Steve Jobs untuk tetap bertahan dan tetap mengembangkan Apple sekalipun kegagalan demi kegagalan ditemui telah membuktikan kalau kerja keras, obsesi, mimpi, dan cinta dapat lebih berpengaruh pada kesuksesan ketimbang statistika hasil penjualan, harga saham, maupun jabatan strategis seseorang.





Saya percaya kalau semua orang bisa sesukses Steve Jobs. Namun seringkali kita tidak punya kepercayaan diri untuk bisa menjadi sukses. Kita seringkali mudah terpengaruh untuk mengikuti orang lain dibandingkan mengikuti kata hati dan passion kita. Satu hal yang saya lihat dari beberapa pengusaha sukses adalah mereka semua mencintai benar usaha yang mereka jalankan, bahkan saat usaha itu merugi, mereka tidak menyerah. Saya juga percaya kalau kita menjalankan apa yang benar-benar kita cintai, maka sesungguhnya kita tidak akan peduli berapa banyak halangan dan penderitaan yang kita hadapi dan justru hal-hal seperti itulah yang membuat kita belajar banyak hal yang kemudian akan menjadi bekal kesuksesan kita nantinya.

Namun satu hal yang menjadi poin penting lainnya adalah, sukses bukanlah berarti harus menjadi Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Larry Page dan Sergey Brinn. Sukses adalah menjadi apa yang kita cintai dan kita dengan sepenuh hati menjalaninya. Steve Wozniak, yang begitu mencintai dunia komputer tidak iri pada Steve Jobs yang lebih populer daripada dirinya. Paul Allen yang memberikan lebih banyak sumbangsih baik berupa uang dan juga kemampuan programming-nya untuk mendirikan Microsoft juga tidak kemudian iri pada ketenaran dan kekayaan Bill Gates. Kalau saja Steve Wozniak menolak untuk bekerjasama dengan Steve Jobs dan Paul Allen juga menolak bekerjasama dengan Bill Gates, maka tidak akan pernah ada yang namanya Apple atau Microsoft. Setiap individu punya peran atas kesuksesan suatu usaha. Mungkin itulah satu hal yang membuat Apple dan Microsoft menjadi perusahaan yang besar hingga hari ini.

“Saat kita menjalankan hal yang kita cintai dan hal tersebut berdampak postif kepada orang lain, maka itulah kesuksesan sesungguhnya, tak peduli berapa jumlah uang di rekeningmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s