Ya, saya memang suka sekali menulis sesuatu yang akan menimbulkan kontroversi. Bukan karena saya ini suka bikin rusuh, tapi lebih karena memang terkadang cara pandang saya atas sesuatu tidak sejalan atau berbeda dengan orang-orang lain. Sebenarnya saya rasa kamu mungkin akan setuju dengan tulisan saya yang satu ini, hanya saja mungkin judul diatas yang terlalu provokatif karena tidak sesuai akan pemahamanmu selama ini. Tapi setuju ataupun tidak, cobalah baca terlebih dulu, sudut pandang saya atas manusia berikut.

Saya rasa kamu sejak dulu berpikir kalau semua manusia itu pasti akan mati, tak mungkin ada yang bisa hidup abadi. Tapi menurut saya manusia yang sesungguhnya itu tidak pernah dan tidak bisa mati. Lho kok bisa begitu? (Disini saya rasa kamu akan mulai merasa kalau saya ini penganut aliran sesat, penganut paham mistis, atau bahkan saya sudah tidak waras. Atau jangan-jangan saya ini sekelompok pencuci otak. Tapi terserah kamu untuk terus melanjutkan membaca atau tidak)

Manusia, menurut saya terdiri atas dua entitas. Entitas pertama adalah fisik atau raga. Fisik berarti hal-hal yang berkaitan dengan tubuh kita. Beberapa orang lebih cenderung memandang kata “manusia” itu mengacu pada entitas fisik saja. Misalnya, saat saya mengatakan Ibrahim Musa Ibnu Syihab (yaitu saya sendiri), maka yang dimaksud adalah sesosok manusia kurus, dengan bobot sekitar 50 kg dan tinggi kira-kira 170an cm, agak cadel, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fisik saya saja. Seringkali kita melupakan satu entitas lain yang menurut saya lebih menunjukan siapa manusia itu sebenarnya. Sebenarnya saya agak bingung memberikan sebutan yang pas untuk entitas yang satu ini. Tapi karena kita sudah menggunakan kata fisik atau raga untuk entitas pertama, mari kita sebut saja entitas kedua ini dengan sebutan “jiwa”. Apa yang dimaksud dengan jiwa? Menurut saya jiwa disini berarti adalah sikap, sifat, kepribadian, obsesi, prinsip, pemikiran, dan hal-hal lain yang ada pada diri manusia namun tidak bisa dilihat dalam bentuk fisikal. Entitas satu inilah yang menurut saya yang menunjukan manusia sesungguhnya. Entitas inilah yang mencerminkan baik dan buruknya manusia. Dan saat saya mengatakan “manusia”, saya lebih suka melihat dari entitas yang satu ini ketimbang entitas pertama tadi. Kenapa demikian? Baca paragraf selanjutnya 😀

Fisik manusia itu sangat rentan sekali untuk terluka, rusak, bahkan tak berfungsi lagi. Wajah rupawan kita, dalam sekejap saja bisa langsung menghilang saat kita mengalami kecelakaan. Fisik kita yang kekar, ini juga dapat dengan mudah menghilang saat kita terkena penyakit. Bahkan, sebaik apapun kita menjaga fisik kita, tetap saja ada batas waktu maksimal dari pemakaian fisik kita. Dan jika batas itu telah terlewati, maka fisik manusia tak akan lagi berfungsi. Kondisi inilah yang kemudian kita kenal dengan nama kematian. Dan sebenarnya fisik manusia itupun sebenarnya hanyalah berupa seonggok daging yang mungkin secara tampilan bisa berbeda-beda, namun pada dasarnya tetaplah daging biasa yang suatu saat akan rusak, membusuk, dan tak lagi berguna.

Banyak orang-orang yang tekadang lebih memedulikan entitas fisik ini ketimbang satu entitas lain yang menurut saya lebih menunjukan pada diri manusia sebenarnya. Banyak orang lebih memedulikan pada penampilan wajah, postur tubuh, ataupun pakaian yang dikenakan dibandingkan dengan prinsip hidup, pemikiran, ataupun obsesi. Menurut saya, orang-orang ini sebenarnya telah mati bahkan jauh sebelum detak jantungnya berhenti. Mereka telah mati, hidup mereka hanyalah sebatas mempertahankan tubuhnya untuk tetap hidup, namun mereka sendiri tidak benar-benar hidup. Dan saat jasad mereka mati, yang akan diingat oleh orang-orang hanyalah tampilan fisiknya saja. Dan dalam waktu singkat, orang-orang dapat dengan mudah melupakan kalau mereka pernah hidup.

Berbeda dengan fisik, entitas jiwa baik itu berupa pemikiran, prinsip, sikap, obsesi sebenarnya bisa hidup selama-lamanya. Senapan, pedang, laser, bom nuklir atau bahkan senjata paling canggih di dunia sekalipun tidak akan pernah bisa membunuh pemikiran, ide, prinsip, maupun sikap manusia. Saat kata manusia mengacu pada entitas jiwa, maka tak aneh rasanya bila saya mengatakan kalau manusia yang sesungguhnya tidak akan bisa mati. Yang mungkin mati pada diri manusia hanyalah yang berkaitan dengan benda fisik saja. Mengutip salah satu adegan film “V For Vendetta“, saat Evey menyadari kalau selama ini yang menculiknya adalah V, Evey marah. Namun saat itu V meyakinkan Evey bahwa menculiknya adalah satu-satunya cara untuk membuat Evey sadar bahwa ada yang lebih berharga dari sekedar hidup. Dengan menskenariokan seolah-olah Evey sedang ditahan oleh pemerintah dan dipaksa untuk memberitahukan dimana keberadaan V, Evey yang saat itu lebih memilih mati daripada memberitahukan keberadaan V telah berhasil mengalahkan kematian. Evey telah berhasil menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari hidup.

salah satu adegan dalam film "V For Vendetta"
salah satu adegan dalam film "V For Vendetta"
Di kehidupan nyata, banyak orang juga telah berhasil mengalahkan kematian. Bagaimana caranya? Ya lewat membangun prinsip, pemikiran, maupun ide telah membuat seseorang tidak pernah benar-benar mati. Yang mati hanyalah sekedar fisiknya. Siapa contohnya? Nabi Muhammad SAW, sekalipun beliau telah meninggal lebih dari 1000 tahun lalu, namun pemikirannya, prinsipnya, sikap hidupnya masih hidup bersama jutaan pengikutnya sampai hari ini. Bilal bin Rabah, ia juga telah berhasil mengalahkan kematian. Setelah meyakini sepenuhnya dengan prinsip hidupnya untuk menjadi seorang muslim, ia sudah tidak lagi takut akan kematian. Ia sadar bahwa batu besar yang ditindihkan ke badannya oleh tuannya saat itu dapat membuat fisiknya mati, namun tidak dengan prinsip dan keyakinannya. Tak ada batu sebesar apapun di dunia ini yang bisa membunuh keyakinannya. Selain mereka, masih banyak orang-orang inspiratif lain yang tidak pernah benar-benar mati.

Begitu pula dengan saya, saya ingin menjadi orang yang tidak pernah mati. Saya ingin berhasil mengalahkan kematian. Dan saya ingin saat fisik saya mati nanti masih ada orang lain yang terinspirasi dengan pemikiran, prinsip, maupun sikap saya yang telah saya bangun selama fisik saya masih berfungsi. Dengan demikian saya sebenarnya masih tetap hidup dalam diri orang lain. Apakah kamu juga berpikiran sama dengan saya?

Di balik topeng ini tidak hanya sekedar daging. Di balik topeng ini ada pemikiran, Tuan Creedy. Dan pemikiran tahan terhadap peluru” (V dalam V For Vendetta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s