Buat kamu yang sering merasa hidupmu selalu sial, hidupku tidak pernah menyenangkan, kamu selalu dirundung masalah, kamu selalu mendapat musibah, bahkan mungkin merasa dunia ini seolah-olah memang sentimen kepada kamu dan sengaja ingin mengerjaimu, mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit mengobati rasa sedihmu.

Karena saya hanya pernah merasakan hidup sebagai seorang Ibrahim Musa Ibnu Syihab, maka saya hanya bisa menceritakan pengalaman saya pribadi saja. Kalau pengalaman orang lain, saya belum pernah tahu, nanti dikira saya kurang ajar kalau sok-sok menceritakan pengalaman yang tidak dialami sendiri.

Berikut saya ceritakan beberapa hal dalam diri saya yang mungkin akan terasa sebagai kekurangan atau sebagai musibah, namun ternyata juga punya sisi baik kalau kita mengubah sudut pandang kita.

1. Kurus
Sejak lahir sampai hari dimana tulisan ini dibuat, tubuh saya masih saja tergolong kurus jika dihitung menggunakan Body Mass Index, bahkan masih cukup jauh dari normal. Sempat beberapa kali saya berpikir untuk mencari cara bagaimana menggemukan badan saya. Dan karena harga susu Appeton Weight Gain masih cukup mahal untuk kantong saya, saya akhirnya berpikir ulang tentang apakah saya memang perlu menjadi lebih gemuk. Saya kemudian mengingat-ingat kejadian-kejadian dalam hidup saya sebagai orang kurus. Saya kemudian sadar kalau selama ini ternyata memang tidak ada masalah yang berarti selama hidup saya sebagi orang bertubuh kurus. Saya juga tetap bisa menjalankan kegiatan sehari-hari saya tanpa gangguan yang berarti. Saya juga berpikir apakah menjadi gemuk akan membuat hidup saya lebih baik? Bukankah justru dengan menjadi gemuk akan membuat beban tubuh yang saya bawa semaik besar, dan ini akan membutuhkan lebih banyak energi. Saya akan membutuhkan energi lebih untuk sekedar berdiri, berjalan, apalagi berlari. Ini pasti akan menyulitkan saya nantinya. Dan pasti saya akan membutuhkan makan lebih banyak dari sekarang, yang berarti saya akan lebih boros.Β  Justru saya saat ini merasa puas dengan tubuh saya yang selalu berkisar disekitar 50 kg saja. πŸ˜€

2. Cadel
Sampai saat ini saya tidak paham kenapa saya ini sudah berumur 20 tahun lebih tapi masih kesulitan mengucapkan huruf ‘R’. Entah karena saya mungkin tidak masuk saat guru SD saya mengajarkan huruf R, atau entah karena saya salah membeli buku belajar membaca. Sudah sejak kecil sampai saat ini saya sering menjadi bahan tertawaan teman-teman saya karena cara pelafalan saya terhadap huruf ‘R’ yang selalu saja aneh, selalu saja cara saya mengucapkan huruf ‘R’ malah mirip dengan huruf ‘W’. Dulu ini sempat membuat saya minder, apalagi kalau harus berbicara di depan umum, pasti akan mengundang tawa dan ejekan. Namun, lama-kelamaan, saya sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Saya sudah mulai terbiasa ditertawakan oleh teman-teman saya karena saya cadel. Saya juga mulai merasa kalau ditertawakan itu tidak merugikan saya dalam hal apapun. Justru itu akan menjadi bagus, karena dengan teman-teman saya tertawa, berarti saya telah membuat teman saya menjadi bahagia. Malah, kini keunikan cara bicara saya ini membuat saya lebih dikenal. Kini cadel menjadi ciri khas saya. Dan selama cara bicara saya masih bisa dipahami oleh lawan bicara saya, saya tidak peduli apakah itu terdengar aneh atau tidak. Dan tahukah kamu, kata banyak orang, kalau kita cadel, maka kita dapat lebih mudah melafalkan kata-kata berbahasa Inggris, dan itu keren. πŸ˜€

3. Tidak pinter-pinter amat
Sejak dulu hingga sekarang saya selalu menjadi murid/mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tidak pernah menjadi juara kelas, bahkan sering juga masuk ke golongan dibawah rata-rata. Nilai UAN saya waktu SMA pun termasuk yang terjelek di IPA. Berhasil masuk jurusan Teknik Informatika ITS juga bisa jadi hanya keberuntungan. Diantara teman-teman di jurusan saya, saya pun tidak menonjol di sisi akademis. Kemampuan ngoding (bikin program) pun mungkin masih di bawah rata-rata. IPK? Ini apalagi, saya ini banyak mengulang mata kuliah kok. Namun saya tidak pernah kuatir dengan hal ini, karena saya rasa saya hanya perlu mencari mana bidang yang benar-benar saya sukai di jurusan saya dan saya akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh agar di kemudian hari dapat saya andalkan untuk mencari uang. Saya tidak peduli kalau saya bodoh di mata kuliah yang lain, selama saya punya keahlian di bidang tertentu, saya yakin saya masih bisa punya pekerjaan. (baca juga tulisan saya, Kuliah? jangan Kuatir)

4. Jerawat
Kalau yang satu ini sih sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Sejak SMA, wajah saya ini memang mudah sekali dihinggapi jerawat. Tapi ini tidak pernah benar-benar terlalu menggangu, paling juga hanya sedikit agak sakit dan perih saja, dan itu kan wajar, namanya juga jerawat. Tapi saya sering prihatin melihat iklan-iklan kosmetik di TV yang membuat seolah-olah jerawat kecil dapat membuat hidupku kacau, hancur dan bahkan tidak akan mendapat pasangan :O. Ini sangat berlebihan sekali menurut saya. Sampai-sampai anak-anak muda jaman sekarang lebih dibuat stress saat wajahnya ditumbuhi secuil jerawat ketimbang stress karena nilai ujiannya jelek.

5. Jomblo
20 tahun lebih tidak punya pacar mungkin akan terdengar begitu menyedihkan buat orang lain. Tapi tidak bagi saya, saya masih tetap hidup dengan bahagia sampai hari ini. Saya masih tetap bisa melakukan hobi-hobi saya. Saya tidak pernah merasa kesepian karena saya punya banyak hal yang bisa saya lakukan untuk mengusir bosan. Saya juga masih bisa melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan. Lalu kenapa saya harus bersedih? Kamu bakal lebih tahu alasan saya tetap jomblo hingga hari ini di tulisan saya yang berjudul Pacaran Dalam Kacamata Saya.

Sebenarnya ada banyak hal lagi yang ingin saya ceritakan disini, tapi saya agak lupa dan bingung mau menulis seperti apa. Namun, yang terpenting dari tulisan yang panjang ini adalah, baik-buruk, sial-beruntung dari setiap kejadian bergantung dari cara kita memandang sesuatu. Segala sesuatu bisa menjadi hal yang baik jika kita memandangnya dari sisi lain. Menjadi diri sendiri, puas dengan apa yang telah diberikan kepada kita. Hal-hal tersebut akan membuat hidup kita terasa lebih menyenangkan. “Aneh” menurut saya adalah saat kita dipaksa untuk menjadi normal. Karena normal bagi orang lain belum tentu normal juga bagi kita.

Cara berpikir, sikap, idealisme, prinsip hidup, itulah yang akan menentukan siapa kita sebenarnya, bukan harta, penampilan, jabatan, IPK, jenjang pendidikan, status sosial atau gaji.

“Saya adalah saya orangnya yang ingin dihargai, dinilai, disukai karena apa yang benar-benar ada dalam diri saya bukan karena penampilan, harta, status sosial, atau jabatan.

PS: Ditulis di tengah malam sambil melarikan diri dari tugas-tugas kuliah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang menumpuk. πŸ˜€

Buat kamu yang sering merasa hidupmu selalu sial, hidupku tidak pernah menyenangkan, kamu selalu dirundung masalah, 

kamu selalu mendapat musibah, bahkan mungkin merasa dunia ini seolah-olah memang sentimen kepada kamu dan

sengaja ingin mengerjaimu, mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit mengobati rasa sedihmu.

Karena saya hanya pernah merasakan hidup sebagai seorang Ibrahim Musa Ibnu Syihab, maka saya hanya bisa

menceritakan pengalaman saya pribadi saja. Kalau pengalaman orang lain, saya belum pernah tahu, nanti dikira saya

kurang ajar kalau sok-sok menceritakan pengalaman yang tidak dialami sendiri.

Berikut saya ceritakan beberapa hal dalam diri saya yang mungkin akan terasa sebagai kekurangan atau sebagai musibah,

namun ternyata juga punya sisi baik kalau kita mengubah sudut pandang kita.

1. Kurus
Sejak lahir sampai hari dimana tulisan ini dibuat, tubuh saya masih saja tergolong kurus jika dihitung menggunakan Body

Mass Index, bahkan masih cukup jauh dari normal. Sempat beberapa kali saya berpikir untuk mencari cara bagaimana

menggemukan badan saya. Dan karena harga susu Appeton Weight Gain masih cukup mahal untuk kantong saya, saya

akhirnya berpikir ulang tentang apakah saya memang perlu menjadi lebih gemuk. Saya kemudian mengingat-ingat

kejadian-kejadian dalam hidup saya sebagai orang kurus. Saya kemudian sadar kalau selama ini ternyata memang tidak

ada masalah yang berarti selama hidup saya sebagi orang bertubuh kurus. Saya juga tetap bisa menjalankan kegiatan

sehari-hari saya tanpa gangguan yang berarti. Saya juga berpikir apakah menjadi gemuk akan membuat hidup saya lebih

baik? Bukankah justru dengan menjadi gemuk akan membuat beban tubuh yang saya bawa semaik besar, dan ini akan

membutuhkan lebih banyak energi. Saya akan membutuhkan energi lebih untuk sekedar berdiri, berjalan, apalagi berlari.

Ini pasti akan menyulitkan saya nantinya. Dan pasti saya akan membutuhkan makan lebih banyak dari sekarang, yang

berarti saya akan lebih boros.Β  Justru saya saat ini merasa puas dengan tubuh saya yang selalu berkisar disekitar 50 kg

saja.

2. Cadel
Sampai saat ini saya tidak paham kenapa saya ini sudah berumur 20 tahun lebih tapi masih kesulitan mengucapkan huruf

‘R’. Entah karena saya mungkin tidak masuk saat guru SD saya mengajarkan huruf R, atau entah karena saya salah

membeli buku belajar membaca. Sudah sejak kecil sampai saat ini saya sering menjadi bahan tertawaan teman-teman

saya karena cara pelafalan saya terhadap huruf ‘R’ yang selalu saja aneh, selalu saja cara saya mengucapkan huruf ‘R’

malah mirip dengan huruf ‘W’. Dulu ini sempat membuat saya minder, apalagi kalau harus berbicara di depan umum, pasti

akan mengundang tawa dan ejekan. Namun, lama-kelamaan, saya sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Saya sudah mulai

terbiasa ditertawakan oleh teman-teman saya karena saya cadel. Saya juga mulai merasa kalau ditertawakan itu tidak

merugikan saya dalam hal apapun. Justru itu akan menjadi bagus, karena dengan teman-teman saya tertawa, berarti saya

telah membuat teman saya menjadi bahagia. Malah, kini keunikan cara bicara saya ini membuat saya lebih dikenal. Kini

cadel menjadi ciri khas saya. Dan selama cara bicara saya masih bisa dipahami oleh lawan bicara saya, saya tidak peduli

apakah itu terdengar aneh atau tidak. Dan tahukah kamu, kata banyak orang, kalau kita cadel, maka kita dapat lebih

mudah melafalkan kata-kata berbahasa Inggris, dan itu keren.

3. Tidak pinter-pinter amat
Sejak dulu hingga sekarang saya selalu menjadi murid/mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tidak pernah menjadi juara

kelas, bahkan sering juga masuk ke golongan dibawah rata-rata. Nilai UAN saya waktu SMA pun termasuk yang terjelek di

IPA. Berhasil masuk jurusan Teknik Informatika ITS juga bisa jadi hanya keberuntungan. Diantara teman-teman di jurusan

saya, saya pun tidak menonjol di mata kuliah apapun. Kemampuan ngoding (bikin program) pun mungkin masih di bawah

rata-rata. IPK? Ini apalagi, saya ini banyak mengulang mata kuliah kok. Namun saya tidak pernah kuatir dengan hal ini,

karena saya rasa saya hanya perlu mencari mana bidang yang benar-benar saya sukai di jurusan saya dan saya akan

mempelajarinya agar di kemudian hari dapat saya andalkan untuk mencari uang. Saya tidak peduli kalau saya bodoh di

mata kuliah yang lain, selama saya punya keahlian di bidang tertentu, saya yakin saya masih bisa punya pekerjaan. (baca

juga tulisan saya, Kuliah? jangan Kuatir)

4. Jerawat
Kalau yang satu ini sih sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Sejak SMA, wajah saya ini memang mudah sekali dihinggapi

jerawat. Tapi ini tidak pernah benar-benar terlalu menggangu, paling juga hanya sedikit agak sakit dan perih saja, dan itu

kan wajar, namanya juga jerawat. Tapi saya sering prihatin melihat iklan-iklan kosmetik di TV yang membuat seolah-olah

jerawat kecil dapat membuat hidupku kacau, hancur dan bahkan tidak akan mendapat pasangan. Ini sangat berlebihan

sekali menurut saya. Sampai-sampai anak-anak muda jaman sekarang lebih dibuat stress saat wajahnya ditumbuhi secuil

jerawat ketimbang stress karena nilai ujiannya jelek.

5. Jomblo
20 tahun lebih tidak punya pacar mungkin akan terdengar begitu menyedihkan buat orang lain. Tapi tidak bagi saya, saya

masih tetap hidup dengan bahagia sampai hari ini. Saya masih tetap bisa melakukan hobi-hobi saya. Saya tidak pernah

merasa kesepian karena saya punya banyak hal yang bisa saya lakukan untuk mengusir bosan. Saya juga masih bisa

melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan. Lalu kenapa saya harus bersedih? Kamu bakal lebih tahu alasan saya tetap jomblo hingga hari ini di tulisan saya yang berjudul Pacaran Dalam Kacamata Saya.

Sebenarnya ada banyak hal lagi yang ingin saya ceritakan disini, tapi saya agak lupa dan bingung mau menulis seperti

apa. Namun, yang terpenting dari tulisan yang panjang ini adalah, baik-buruk, sial-beruntung dari setiap kejadian

bergantung dari cara kita memandang sesuatu. Segala sesuatu bisa menjadi hal yang baik jika kita memandangnya dari

sisi lain. Menjadi diri sendiri, puas dengan apa yang telah diberikan kepada kita. Hal-hal tersebut akan membuat hidup

kita terasa lebih menyenangkan. “Aneh” menurut saya adalah saat kita dipaksa untuk menjadi normal. Karena normal bagi orang lain belum tentu normal juga bagi kita.

Cara berpikir, sikap, idealisme, prinsip hidup, itulah yang akan menentukan siapa kita sebenarnya, bukan harta, penampilan, jabatan, IPK, jenjang pendidikan, status sosial atau gaji.

Saya adalah saya orangnya yang ingin dihargai, dinilai, disukai karena apa yang benar-benar ada dalam diri saya bukan karena penampilan, harta, status sosial, atau jabatan.

PS: Ditulis di tengah malam sambil melarikan diri dari tugas-tugas kuliah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang menumpuk. πŸ˜€

Advertisements

13 thoughts on “Ini Juga Sudah Cukup

  1. popularitas bukan dinilai pada hal-hal yang tampak luar saja. Kamuflase? Mungkin iya mungkin tidak. Karya inspiratif,kreatif poin terpenting dan bisa mengalahkan semua kamuflase itu.

    Half of words are inspired by Ibrahim Musa. Uang bukan segalanya namun kejarlah popularitas dengan perbanyak karya kreatifmu.

    1. haha…

      yang penting adalah menjadi diri sendiri. dikenal dengan apa yang ada jauh di dalam diri kita lebih berarti daripada dikenal hanya karena luarnya saja, misalnya wajah, jabatan, kekayaan dan semacamnya. kalau bahasaku, itu semua cuma ilusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s