Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan film India berjudul Taare Zameen Par. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik menonton film-film India, tapi karena saya tahu si pembuat film ini juga yang membuat film 3 Idiots (film terbaik yang pernah saya tonton), yakni si Aamir Khan, makanya saya yakin kalau film ini akan sama bagusnya dengan film 3 Idiots.

Taare Zameen Par
poster film Taare Zameen Par

Film ini menceritakan seorang anak yang mengalami kesulitan dalam membaca (atau biasa disebut dengan disleksia) yang dituntut oleh orang tua dan sekolahnya untuk mendapat nilai yang bagus. Kalau membaca saja sudah susah, bagaimana dia bisa mendapat nilai bagus? Ya memang tidak bisa, sampai akhirnya ia menjadi nakal dan malas belajar. Ia yang sebenarnya sangat berbakat dalam melukis pun akhirnya dikirimkan ke sebuah asrama yang terkenal ketat dan keras dalam mendidik. Bagaimana akhirnya? Kamu tonton saja sendiri. Biar lebih seru, lebih asyik dan biar saya juga tidak perlu capek-capek nulis semua ceritanya disini.

Sebenarnya saya menyesal menonton film ini. Bukan karena ceritanya jelek, tapi kenapa saya baru nonton film ini sekarang, kenapa tidak sejak lama. Padahal film ini justru dibuat sebelum film 3 Idiots, yakni sekitar tahun 2007. Film ini juga mebuat saya sedih, saya merasa menjadi seperti ayah dan ibunya Ishan yang memaksa anaknya untuk belajar, tanpa pernah mengerti kesulitan anaknya. Kenapa saya merasa seperti ini? Karena saya merasa tidak berhasil mengajarkan adik saya. Adik saya, juga sepertinya punya kesulitan dalam memahami pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Tapi kadang saya terlalu keras dalam mengajarkan adik saya, saya seringkali merasa kenapa adik saya tidak bisa memahami sebagaimana saya memahami materi pelajaran. Padahal kemampuan seseorang memahami sesuatu itu berbeda-beda dan saya gagal mengajarkan adik saya dengan baik 😦 . Dan adik saya juga sebenarnya cenderung berbakat di seni menggambar, gambar tangannya sangat bagus menurut saya. (oh, mudah-mudahan saya bisa segera memperbaiki kesalahan saya ini)

Tapi bukan hal itu yang paling utama yang ingin saya bahas disini. Yang utama ialah kita harus memahami kalau setiap orang itu unik. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap orang tidak bisa dipaksa menjadi sama, menjadi yang tidak mereka inginkan. Inilah yang seringkali gagal sekolah pahami. Sekolah terlalu memaksa seseorang untuk menjadi apa yang sekolah mau, bukan apa yang si anak mau. (baca ini lebih lanjut di tulisan saya yang berjudul “Sekolah dan Hilangnya Mimpi“)

Apakah salah saat seorang anak bercita-cita menjadi pemain bola, menjadi seniman, menjadi fotografer, bahkan sekedar menjadi sopir bus. Mungkin ini karena dunia terlalu meng-kelas-kelas-kan seseorang berdasarkan pekerjaannya. Seseorang dianggap sukses kalau ia pengusaha, kalau ia artis, kalau ia manajer, kalau ia presiden. Bukankah sekalipun ada presiden tapi kalau tidak ada petani, jutaan orang akan kelaparan. Bukankah kalau tidak ada guru, tidak mungkin ada presiden. Bukankah tanpa satpam, pencuri akan bebas beraksi. Tapi sayangnya tak ada yang menghargai pekerjaan-pekerjaan macam ini. Tak ada yang menganggap mereka berarti. Tak ada yang mau membela hak-hak mereka. Bahkan, seringkali mereka dianggap sebagai orang yang kalah dalam persaingan kehidupan di dunia sehingga mereka pantas menjadi menderita hidup di dunia. Sekalipun kita paham bahwa tanpa mereka justru dunia ini akan kacau balau.

Dan hal inilah yang lagi-lagi membuat saya berhasil menemukan sebuah kata-kata yang mungkin bisa menginspirasi,

“Sukses bukan dilihat dari apa jenis pekerjaanmu, tapi apa yang berhasil kau lakukan dengan pekerjaanmu.”

Mudah-mudahan suatu saat, ketika kita sudah mempunyai pekerjaan tertentu, saat kita mempekerjakan orang lain, kita sadar bahwa setiap orang patut dihargai, apapun jenis pekerjaannya, jangan sampai hanya karena kita adalah seorang manajer, membuat kita merendahkan orang lain.

P.S:

– Ditulis untuk mengobati kangen saya terhadap hobi menulis saya, dan juga agar blog ini (dan kamu juga tentunya) senang karena mendapat asupan tulisan baru dari saya. 😀

– Ditulis di tengah malam yang sepi di sebuah gedung tertinggi di kawasan kampus ITS, ditemani secangkir kopi dingin dan lagu Oasis, Blur, juga Jet.

Advertisements

7 thoughts on “Mereka Juga Berarti

  1. “Setiap orang tidak bisa dipaksa menjadi sama, menjadi yang tidak mereka inginkan”
    aq setuju banget ama kata2 mu yg ini im :thumbsup 😀

  2. Sayangnya, kita memang jarang bisa memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya sendiri.

    Kita terlalu sering membanding-bandingkan.
    Sehingga jarang bisa menoleransi sebuah perbedaan.
    Padahal perbedaan adalah suatu hal yang alamiah.

    Guru yang baik itu tidak (hanya) mengajari.
    Tapi menginspirasi.

    That’s why,
    i wanna become a teacher.
    because i wanna inspiring the other…

  3. brotha ur post is almostly smiliar with me, its about India’s Movie, specially Taar Zamen. They tell us how special everyu child is ! 😀
    ^^up up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s