Kamu yang sekarang mahasiswa, pasti pernah merasakan sekolah. Sekolah yang panjang, 12 tahun lamanya. Yang menghabiskan banyak uang. Yang juga merepotkan, karena harus ujian. Yang juga menyenangkan, karena banyak teman. Yang apa lagi? Oh iya, yang menjadi syarat wajib menjadi mahasiswa.

Kalau kamu ingat-ingat lagi masa awal sekolahmu, saat TK dulu, kamu akan ingat, kamu punya cita-cita. Kamu punya mimpi. Dan kamu juga pasti begitu senang saat ditanya gurumu apa cita-citamu. Kamu akan menjawabnya dengan lantang dan meyakinkan. Apapun cita-citamu. Baik itu menjadi  pemain sepak bola, pembalap, penyanyi, pemain film, desainer, seniman, fotografer, pembuat game, hakim, jaksa, pilot, tentara,  astronot (seperti cita-citaku dulu :D), menteri atau bahkan presiden, kamu tetap percaya diri menjawabnya. Bahkan, saat kau mengatakan kalau kamu ingin menjadi supir truk, kamu akan tetap percaya diri dengan cita-cita itu. Sekalipun orang-orang dewasa menertawakanmu.

Begitu kau lepas dari masa-masa TK yang indah dan menyenangkan. Kamu dengan bahagia, memasuki masa sekolah dasar. Kamu mulai berkenalan dengan begitu banyak pelajaran. Kamu kemudian dituntut untuk bisa menguasai semuanya. Sekalipun kamu yakin kalau kamu seharusnya jadi seorang pemain sepak bola karena memang kakimu yang kuat dan lincah, kamu tetap akan dipaksa untuk bisa matematika. Tak hanya matematika untuk kelas 1 SD. Tapi seluruh materi matematika dari SD hingga SMA. Kamu juga harus menguasai pelajaran Sains, Sejarah, Fisika, Biologi, dan juga pelajaran-pelajaran lainnya. Kamu tidak diberi kesempatan untuk memilih. Kalau kau tidak mau, sekolah mengancammu dengan tidak lulus. Dan tidak akan bisa melanjutkan pendidikan. Doktrin kalau seseorang yang tidak lulus tidak akan bisa sukses terlalu kuat. Kau pun terpaksa menuruti perintah gurumu, sekolahmu.

Kamu pun merasa percuma dulu punya cita-cita, kalau ternyata kita hanya dipaksa menjadi apa yang sekolah kita mau. Dan pada saat tertentu, kamu sadar kalau tak semua pelajaran bisa kamu kuasai. Beberapa terlalu sulit untuk bisa kau lewati. Kamu pun mulai mencari cara agar bisa lulus. Tak peduli apakah cara itu jujur atau tidak. Doktrin kalau harus lulus membuatmu terpaksa melakukannya. Dan orang tuamu, dia tidak peduli apa cita-citamu. Orang tuamu pun merasa kalau kamu harus bisa lulus sekolah. Harus bisa menguasai apa yang sekolah perintahkan padamu. Kamu pun mulai berpikiran yang sama. Sukses adalah menjadi pengusaha, menjadi artis, menjadi presiden. Selain itu, bukanlah sebuah kesuksesan. Termasuk menjadi pemain sepak bola.

Hal-hal ini kemudian membuatmu menjadi tak lagi punya cita-cita. Sepak Bola kini hanyalah hobi. Kamu merasa sepak bola tidak akan membuatmu sukses, jadi tak perlu lagi berlatih dengan keras. Lagipula kau terlalu sibuk dengan tugas-tugas sekolahmu. Cita-citamu kini? “Hmmmm…. Apaaaaa Yaaaa??? Ah Pokoknya jadi orang sukses,” begitu pikirmu. Tapi sukses yang bagaimana? “Tidak tahu. Yang penting lulus dulu lah. Masalah cita-cita belakangan saja. Ngikut temen-temen aja.

Dan akhirnya kau pun lulus, sekalipun tidak semuanya buah kerja kerasmu sendiri, ada juga berkat cara-cara curangmu. Tapi kau tak peduli. Kamu merasa ijazahlah yang terpenting. Seperti yang sekolah ajarkan padamu, “Tak lulus maka tak sukses“.

Setelah kau lulus, kamu lalu bingung. Harus mengambil jurusan apa. Kau memang lulus semua mata pelajaran. Tapi tak satupun kamu merasa ahli. Karena kamu memang mempelajari semuanya karena terpaksa. Bukan karena suka. Lalu kamu pun ikut saja sebagian besar temanmu saja. Pilih jurusan yang banyak peminatnya. Jurusan yang katanya gampang cari kerja. Sekalipun sebenarnya kamu tidak terlalu tertarik di bidang itu.

Bagaimana akhirnya? Kamu sendiri yang lebih tahu. Mungkin saja kamu menjadi sukses seperti bayanganmu sebelumnya. Mungkin saja kamu menjadi stress karena merasa salah pilih jurusan. Mungkin saja kamu tetap lulus, tapi tak tahu lagi harus kemana setelah lulus. Ini kamu yang lebih tahu. Atau mungkin kamu juga belum tahu. Kalau kamu saja tidak tahu, apalagi saya??

Lalu apa maksud semua yang saya ceritakan diatas? Satu hal yang menjadi poin penting bagi saya adalah hilangnya mimpi. Hilangnya cita-cita. Hilangnya motivasi akan menggapai mimpi kita sejak kecil. Karena apa ini? Menurut saya, sekolah mungkin saja penyebabnya. Sekolah tidak mempedulikan apa cita-cita kita. Sekolah terlalu memaksa kita untuk menguasai semuanya. Tanpa pernah menanyakan apa sebenarnya yang kita suka. Sekolah kemudian lebih seperti penjara. Dimana banyak ancaman, banyak tuntutan, banyak paksaan. Dan sekolah bukanlah menjadi hal yang menyenangkan. Padahal katanya sekolah itu penting. Kita pun sebenarnya sekolah lebih untuk bertemu teman-teman kita daripada menuntut ilmu. Asal dapat ijazah, semuanya beres. Karena kita berpikir ijazah lebih penting daripada ilmu. Ijazah yang akan menjadi syarat bekerja. Sekalipun didapat dengan cara curang.

Kenapa sekolah tidak peduli pada cita-cita kita? Apakah ada cita-cita yang salah? Apakah juga ada cita-cita yang benar? Tidak menurut saya. Tak ada cita-cita yang salah. Sekalipun seorang anak bercita-cita menjadi seorang pencuri. Itu tetap cita-cita. Hanya saja tugas kita sebagai orang dewasa yang lebih paham, untuk memahamkan mana hal yang baik dan mana yang buruk. Apa bahaya dari hal buruk dan apa manfaat dari hal baik. Dengan begitu, seorang anak akan paham ia harus menjadi apa. Tanpa perlu dipaksa maupun didikte untuk menjadi apa.

Hai Guru
by The Panasdalam
Lyric by Pidi Baiq
Hai Guru, dengarlah, kami murid tapi bukan milikmu
Hai Guru, didiklah, diri kami sebagai manusia

Tiap manusia punya hal berbeda
Jangan kau bentuk diri kami sama
Haruskan kami jadi, lagi-lagi Habibie

Hai Guru, haruskah, kami taat pada kunci jawaban
Hai Guru, haruskah, kami benci apa yang engkau benci.

Kami ingin ilmu yang kami mau
Kami ingin pilih yang kami suka

Dan kau memilih Einstein
Kami pilih Frankenstein

Tiap manusia punya hal berbeda
Jangan kau bentuk diri kami sama
Haruskan kami jadi, lagi-lagi Habibie

Kalian kuda-kuda gigit besi
Pintar, patuh sholeh, dan manis budi
Maafkan kami tidak, karena kami broken home

Hai Guru, maafkan, sekolah bagi kami seperti penjara
Hai Guru, ijazah, bagi kami tanda kenang-kenangan
Hai Guru, maafkan, jika aku tidak seperti kamu

Advertisements

2 thoughts on “Sekolah dan Hilangnya Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s