Berhubung ini deket dengan hari yang konon dinamakan hari Valentine oleh sebagian orang dan sebagian orang lain menamakannya hari Senin, 14 Februari 2011, tetapi bagi para mahasiswa ITS disebut hari pertama kuliah :), maka saya ingin berbagi pemikiran yang erat kaitannya dengan hari Valentine, yakni pacaran. Beberapa orang mengatakan itu boleh, beberapa lagi mengatakan tidak, tapi saya punya pandangan tersendiri tentang hal ini. Mungkin kamu akan menganggap tulisan ini sebagai curhat atau apalah namanya. Terserah saja lah, saya tidak bisa melarang-larang.

Sebagai manusia, saling menyukai antara laki-laki dan wanita adalah hal yang wajar dan manusiawi. Bahkan saling menyukai antar sesama jenis juga menjadi hal biasa bagi beberapa orang saat ini, sekalipun bagi saya dan sebagian besar orang itu adalah tidak normal.

Menikah, adalah sarana dimana hasrat cinta antara laki-laki dan wanita bisa tersalurkan, setidaknya itu menurut saya, menurut yang lain bisa beda-beda. Untuk beberapa orang, pacaran adalah sarana yang lebih tepat bagi yang belum siap menikah.

Saya sebagai manusia normal juga pasti pernah (dan sampai sekarang juga masih) menyukai seorang perempuan, namun sampai hari dimana tulisan ini ditulis saya belum pernah yang namanya pacaran (ini mungkin akan dianggap curhat, tapi ini sebenarnya hanyalah menulis sebuah fakta). Kenapa? Apa saya tidak laku? Sebagian dari kamu mungkin akan berpikir demikian, tapi saya rasa tidaklah terlalu tepat, karena meskipun saya tidak sangat tampan, tapi saya rasa saya cukup menarik (menurut saya ini fakta, bukan opini). Apa sayanya yang pilih-pilih? Ya jelas saya pilih-pilih, ga mungkin saya asal-asalan dalam mencari pasangan hidup, ntar bisa-bisa malah yang saya pilih ternyata bukan wanita tulen lagi (kalo yang ini jangan sampe kejadian deh, amin!). Tapi bukan ini alasan saya tidak berpacaran. Lalu apa? Apa saya seorang gay? Yang ini jelas-jelas tidak benar. Terus apa dong alasannya?

Seperti yang sudah saya paparkan diatas, menikah bagi saya adalah tujuan utama dalam menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Inilah poin utamanya. Bagi saya, dengan berpacaran seharusnya dibarengi dengan adanya target menikah yang jelas. Target yang memang diusahakan untuk dipenuhi, tidak hanya omong kosong. Dari pengamatan saya, beberapa orang (biasanya selebritis) seringkali menyebutkan begini,

“Ya saya jalani dulu aja lah, kalau cocok ya nanti menikah”

Ini aneh buat saya, kenapa? Kalau belum merasa cocok kenapa berpacaran? Memacari seorang wanita tanpa ada niat menikahinya bagi saya adalah sama dengan mempermainkan si wanita itu. Dan saya bukanlah tipe orang yang suka mempermainkan orang lain. Dan menurut saya tipe pria yang menjalani sebuah hubungan tanpa punya niat dan rencana yang jelas untuk menikahi pasangannya, adalah tipe pria pengecut (maaf kalo seandainya ini menyinggung kamu). Karena ia hanya berani berpacaran, tapi tidak berani mengambil keputusan untuk menikah atau tidak. Ia hanya mau mencari enaknya, tapi takut dengan komitmen.

Dan ada satu lagi alasan kenapa saya juga tidak berpacaran. Itu adalah karena saya belum mempunyai target untuk menikah dalam waktu dekat. Saya masih suka menjalani hidup saya yang bebas ini. Tanpa perlu memikirkan anak-istri dulu. Karena saya memang sedang ingin berpetualang dulu dalam hidup, dan terlalu riskan kalau saya masih harus bertanggung jawab pada keluarga. Dan pada saatnya nanti, saat saya sudah siap dengan komitmen menjalani sebuah keluarga, barulah saya akan mulai mencari pendamping dan akan serius menikahinya. (kalau yang ini memang benar-benar curhat).

Apa saya kesepian karena hal ini? Saya rasa tidak, saya masih punya banyak hal yang bisa membuat saya bersemangat dalam menjalani hidup yang begitu menyenangkan ini. Menggambar dengan Inkscape, beraktifitas di TV Kampus, mengais rezeki lewat lomba-lomba, bercanda dengan teman-teman saya, termasuk menulis di blog ini telah memberikan warna-warna yang menarik dalam hidup saya. Hidup yang hanya akan saya alami satu kali. Hal-hal seperti ini tidak akan bisa tergantikan oleh apapun. Saya sudah cukup bahagia dengan semua ini. Dan untuk urusan jodoh, saya rasa belumlah waktunya untuk saya cari-cari, karena memang saya masih belum siap untuk me-“resmi”-kan siapapun menjadi jodoh saya. (yang ini juga mungkin bisa dibilang curhat :D).

Beberapa dari kamu mungkin tidak setuju dengan pendapat saya, mungkin karena punya alasan sendiri atau mungkin karena sudah terlanjur enak berpacaran padahal sebenarnya setuju dengan pendapat saya. Tapi itu semua kembali kepada setiap orang, saya tidaklah mempunyai hak untuk melarang atau menyuruh seseorang berpacaran. Saya hanyalah bisa menulis di blog ini, karena memang cuma saya yang tau password blog ini, dan memang blog ini saya yang buat.

Advertisements

7 thoughts on “Pacaran

  1. Baca postinganmu yang ini bikin aku teringat postingan Raditya Dika yang satu ini im : http://radityadika.blogdetik.com/2010/12/02/tipe-tipe-jomblo-berdasarkan-teori-ekonomi/ 😀

    (untuk yang kesekian kali) Saya sepakat dengan Anda bahwa pacaran itu bukan ajang untuk coba-coba 😀

    Kalau memang belum siap dan belum mampu bertanggung jawab, mending nggak usah pacaran dulu deh. Daripada ntar malah terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

    Bukan begitu, saudara Ibrahim? 😀

    1. seperti yang sudah pernah saya bilang, tulisan ini bukan untuk melarang seseorang untuk berpacaran, tapi hanya sekedar berbagi pemikiran saja (sekalian nambah-nambah postingan :D), kalau setuju ya silahkan diikuti, kalau tidak setuju, ya tidak apa-apa. Kalau setuju tapi tidak mengikuti juga tidak apa-apa. Bebas-bebas saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s