Seandainya kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah seorang mahasiswa (atau mahasiswi) yang sedang putus asa dengan kuliah yang begitu berat, beruntunglah kamu mendapat kesempatan dalam hidupmu untuk membaca tulisan ini. Sebelum kamu memutuskan untuk pindah jurusan, atau berhenti kuliah atau mungkin berencana bunuh diri, sebaiknya ditunda dulu rencanamu sebentar sampai tulisan ini selesai kamu baca. Setelah itu kamu bebas mau pindah jurusan, berhenti kuliah atau bahkan bunuh diri.

Saya, orang yang menulis (atau lebih tepatnya mengetik) tulisan ini adalah juga seorang mahasiswa. Saya kuliah di Teknik Informatika ITS. Saat awal saya memutuskan kuliah disini, saya pikir dunia komputer memang sesuai dengan hobi saya sejak SMA. Semester-semester awal perkuliahan pun masih bisa saya lewati dengan cukup baik meskipun sebenarnya juga sangat berat. Karena bosan dengan dunia perkuliahan yang monoton, saya pun mulai mencoba-coba mencari-cari aktifitas di luar kuliah. TV Online Kampus pun menjadi pilihanku. Pilihan yang tepat menurutku.

Masa-masa awal menjalani kuliah dibarengi dengan kegiatan di TV kampus memang masih bisa saya atasi, karena memang waktu itu materi kuliah belum terlalu berat dan aktifitas di TV kampus juga masih belum begitu padat. Aktifitas di TV kampus ini lambat laun mulai membuaiku sampai akhirnya saya benar-benar jatuh cinta pada berbagai hal yang saya lakukan di TV kampus. Karena memang saya tipe orang yang melakukan segala sesuatu karena suka dan bukan karena dipaksa, maka saya merasa saya lebih suka dengan kegiatan di TV kampus dibandingkan dengan kegiatan kuliah yang penuh dengan paksaan dan tekanan.

Tak hanya TV Kampus, saya pun mulai jatuh cinta pada satu hal lagi. Yaitu desain grafis. Meskipun sejak SMA saya sudah suka desain grafis, tapi di masa kuliah saya baru benar-benar merasa tergila-gila dengan seni grafis digital ini, terutama vektor. Ini terjadi setelah saya berkenalan dengan salah satu software vector editing open source bernama Inkscape. Software yang menurut saya lebih mengasyikan dari game-game manapun.

Saya pun mulai merambah lomba-lomba di bidang film dan desain grafis untuk menunjukan eksistensi dan kemampuan saya. Saya pun sampai lupa kalau saya ini masih punya tanggungan kuliah yang cukup berat. Sekalipun jarang sekali meraih kemenangan, saya tetap rajin mengikuti lomba-lomba ini. Di akhir semester ke-<censored>, saya pun dikagetkan dengan nilai saya yang benar-benar hancur. Banyak mata kuliah yang harus saya ulang. Saat itulah saya baru sadar kalau selama ini memang saya tidak benar-benar serius dalam kuliah. Saya juga mulai menyadari kalau teman-teman saya sudah mulai jago-jago dalam pemrograman dan saya masih belum bisa apa-apa, masih sama kemampuannya dengan mahasiswa baru, bahkan bisa jadi dibawahnya.

Peristiwa memalukan tersebut menyadarkan saya kalau harus ada yang diubah dalam cara saya ber-kuliah dan beraktifitas di komunitas lain. Saya pun menjadi teringat pada orang tua saya yang sudah susah payah mencari biaya buat membayar biaya SPP (yang sebenarnya lebih cocok kalau disebut biaya internet berbonus kuliah ;)). Tapi saya tidak bisa tiba-tiba menjadi mahasiswa yang study oriented tanpa punya kegiatan lain sama sekali. Saya juga tak mungkin meninggalkan kegiatan-kegiatan di TV kampus yang sudah saya anggap rumah sendiri. Saya juga mustahil menghentikan hobi desain grafis yang bisa menjadi obat stress buat saya.

Hal-hal ini kemudian membuat saya berpikir tentang apa sih sebenarnya kuliah itu? Atau lebih tepatnya apa sih yang paling penting dari menjadi seorang mahasiswa? Apakah dengan tidak pernah bolos kuliah? Apakah dengan rajin pergi ke kampus? Atau dengan rajin berdiskusi dengan dosen? Setelah berpikir tentang ini berhari-hari, saya pun menemukan jawabannya. Kuliah itu bukanlah yang terpenting. Bukan kuliah yang akan menentukan kesuksesan kita. Bukan kuliah yang menentukan masa depan kita. Dan bukan kuliah juga yang menentukan pandai atau bodohnya kita. Lalu apa yang paling penting itu? Menurut saya, yang paling penting adalah kemampuan atau keahlian. Kemampuan dan keahlian inilah yang akan menjadi bekal untuk kita mencapai apa yang kita sebut dengan sukses. Keahlian ini bukanlah hal yang didapat dari kuliah. Kuliah hanyalah sebuah formalitas. Kuliah tidak bisa menjanjikan kita menjadi mengerti. Kuliah hanyalah untuk memenuhi persyaratan 80% kehadiran agar diijinkan ikut UAS. Lalu darimana datangnya keahlian itu? Keahlian didapat dari belajar, berlatih, maupun praktek. Kamu tak akan menjadi jago hanya dengan datang kuliah tepat waktu tanpa pernah belajar dan berlatih. Dan setelah saya perhatikan teman-teman saya yang “pintar-pintar”, saya lihat ternyata memang banyak diantara mereka yang memang anak lab, atau yang sering mroyek, atau yang sering ikut lomba-lomba pemograman. Dan menurut saya hal-hal seperti itulah yang membuat mereka jadi pintar, bukan dengan rajin datang kuliah.

Akhirnya saya pun menemukan jawaban atas masalah saya. Saya tak perlu meninggalkan kegiatan-kegiatan saya di TV kampus. Saya juga tidak perlu berhenti dari hobi saya menggambar vektor yang bisa mengobati rasa suntuk saya. Saya hanya perlu mengatur jadwal saya, kapan harus belajar hal-hal tentang kuliah dan kapan harus mencari keahlian-keahlian lain. Saya juga mulai mencari tutorial-tutorial di internet tentang materi-materi kuliah yang saya banyak tertinggal. Untunglah di internet ada banyak tutorialnya. Saya juga memutuskan untuk memilih menjadi ahli di bidang apa di dunia informatika, karena memang dunia informatika terlalu luas, dan kampus juga terlalu memaksa untuk menguasai terlalu banyak hal. Saya juga yakin kalau jago di satu hal lebih baik dibandingkan tau banyak hal, tapi tidak jago di bidang apapun. Keahlian-keahlian inilah yang saya percaya bisa membawa pada kesuksesan, bahkan tanpa perlu lulus kuliah sekalipun, karena buat apa lulus kuliah kalau tidak punya keahlian apa-apa.

Janganlah kamu kuatir dengan kuliahmu, kuliahmu tidaklah menentukan masa depanmu, kamu sendiri yang menentukan masa depanmu. Dan sekalipun IP mu sudah terlanjur jelek dan banyak mata kuliah yang harus diulang, tak perlu bersedih. Jalani saja sebagaimana mestinya. Yang terpenting adalah kemauan kita untuk belajar dan tekad kita dalam mendalaminya. Itulah bekal kesuksesan kita kelak. Bukan IPK, bukan juga ijazah.

PS:

– Tulisan ini bukan dibuat untuk membuat kita malas kuliah, hanyalah pemberi semangat bagi mahasiswa-mahasiswa yang seperti saya, yang banyak kegiatan di luar kuliah tapi masih tetap mau jadi mahasiswa yang berhasil.

– Saya juga mungkin bukanlah mahasiswa yang jago di bidang apapun, saya juga masih kalah jauh dibandingkan teman-teman saya, tapi saya juga bukanlah mahasiswa yang tidak bisa apa-apa, kalau saya mau berusaha keras, tak ada lagi keraguan dalam diri saya untuk menjadi sukses.

Advertisements

20 thoughts on “Kuliah? Jangan Kuatir

  1. saya suka bagian ini: “Saya juga yakin kalau jago di satu hal lebih baik dibandingkan tau banyak hal, tapi tidak jago di bidang apapun”

    bahkan, seorang profesor atau doktor pun hanya memiliki satu bidang keahlian kan? πŸ™‚

      1. haha. makanya kalau ngeblog fokus 1 topik tertentu. gak usah terlalu sering apdet. yang penting fokus.

        bikin comic gitu lho. semacam parampaa atau chickenstrip. angkat masalah-masalah yang sering kamu pikirkan seperti pendidikan, open source, teknologi sebagai bahan. πŸ™‚

        kalau memang beneran mau bikin, aku rikues karakternya anak-anak wg aja. :))

        sama tambahin beberapa cewe dari mana terserah. wg belum ada kader perempuan soalnya. πŸ˜€

      2. Hahaha. Saran yg bagus. Tapi aku ngeblog bukan buat dibaca banyak orang sih. Aku ngeblog lebih karena pengen nulis aja. Sampe sekarang aku juga masih rutin nulis, tapi sering tulisannya ga selesai emang, jadi ga diposting di blog. Draf tulisan di laptopku ada banyak lho.

  2. kak kasusnya sama persis kayak masalahku, cuma disini aku takut semakin ngga nyaman sama kuliahku. aku merasa tertinggal jauh dan biaya persemesteeku ngga murah. bayangin satu semester 7,5jt kak.. kalo misal tak lanjutin tapi aku rasanya terpaksa dan ngga bisa apa apa gimna? kalo misal pindah, aku udah terlanjur semester 3
    aku bingung musti gmna.. aku kasihan sama orangtuaku

    1. Itu semua keputusannya cuma kamu yang bisa nentuin.

      Aku sendiri baru ngerasa nyaman dg materi perkuliahan ketika Tugas Akhir (setelah melewati 6,5 tahun). Saat itu, aku mulai nemuin apa bidang spesifik yg aku tertarik. Dan sekarang kerjaanku pun tetep sesuai dg bidang perkuliahanku dulu dan aku sangat menikmatinya.
      Beberapa temen yang dulu bisa ngikutin materi perkuliahan (dan punya IPK bagus) malah ga kerja di bidang perkuliahan mereka dulu.

      Kalo kamu ngerasa udah ga tahan lagi, keputusan keluar itu bukan hal yg salah. Mudah2an orangtuamu bisa nerima, lagipula semester 3 belumlah terlalu lama. Tapi kemungkinan besar mereka bakal ngerasa kecewa.

      Kalo kamu bertahan, coba caritahu macam2 bidang khusus di jurusan kamu, bisa aja nanti kamu nemuin bidang spesifik yg bisa kamu nikmati. Kalopun engga, walaupun berat, selama masih sanggup, usahain kamu selesain aja perkuliahanmu. Mungkin saat kerja nanti kamu bisa nyari pekerjaan di bidang lain yang kamu lebih suka. Setidaknya, beban tanggung jawabmu ke orangtua udah selesai. Biarpun sedikit, pasti suatu saat nanti, ada materi perkuliahamu yang berguna buat kamu nanti kok. Ga ada yang sia2 di dunia ini.

  3. Parah gan sekarang ane masuk semester 8 udah puncak2nya jenuh kuliah, ketinggalan setengah kredit dari kelulusan, mau jadi apa?

  4. Saya tahun ini baru memulai kuliahdi jurusan dan univnya yang sama kaya kaka cantumkan, cuma jujur aja saya takut salah jurusan. Saya takut karena mamah sama papah saya ga suka jurusan yg saya pilih dan juga gaterlalu seneng sama univ yg saya pilih karena jauh banget dari keluarga. Saya tau orangtua pasti ngertiin banget anaknya, tapi entah kenapa hati saya kekeh pilih jurusan dan univ ini.

    Jadi saya harus gimana, saya takut nyesel karna gangedengerin omongan orangtua:(

    1. Kalem dek. Nyatanya, kamu udah diterima disitu. Artinya, bukan tanpa alasan takdir ngebawa kamu kesana. Saranku sih, ya udah jalanin aja apa yg udah ada sekarang. Tapi dengan serius, bukan main2, harus bisa tanggung jawab sama pilihannya sendiri. Mudah2an orangtuamu nanti bisa mengerti.
      Ini beneran jurusan sama kampusnya sama kayak saya?

  5. saya udah semester 3 sekarang, dan merasa saya salah dalm memgambil jurusan . rasanya ingin berhenti kuliah saja ,karena salah jurusan dan lingkungan yang kurang nyaman. tetapi saya tidak tahu bagaimana cara membicarakannya kepada orang tua, takut mereka kecewa, dan keadaan ekonomi keluarga yang seba kekurangan. selama kuliah 3 semester ini, saya banyak memdapat bantuan dari orang-orang terdekat, dan juga bantuan biaya dari orang terdekat. saya merasa kalau saya memutuskan berhenti kuliah pasti banyak orang yang kecewa dengan saaya,terutama kedua orang tua, di tambah lagi saya adalah anak pertama dari 5 bersaudara, pasti orang tua saya berharap besar kepada saya. saya harus bagaimana ? saya merasa bahwa saya adalah orang yang tidak berguna, sudah kuliah jauh2, sekarang mau berhenti, dan saya juga merupakan mahasiswa bidik misi, saya harus bagaimana? sebernarnya saya ingin bekerja dari dulu daripada kuliah, agar dapat membantu perekonomian keluarga, maaf jadi curhat ,wkwkwkkw. tolong di kasih saran dan masukan saya harus bagaimana ?

    1. Tidak ada jaminan setelah kamu ganti jurusan pun keadaan akan lebih baik. Kadang hidup emang bakal dihadapi oleh situasi dimana kita mesti mengalah. Saranku sih, jangan berhenti, sebisa mungkin cari yg paling masih bisa disukai dari bidang2 di jurusanmu, mudah2an ga semuanya bener2 kamu ga suka. Kalopun ternyata ga ada, coba tetep kembangin skill/kemampuan di bidang yg kamu suka sembari tetep lanjutin kuliah. Siapa tahu di masa depan nanti kemampuanmu yg ini yg malah jadi bidang pekerjaanmu.
      Tapi kalo kamu bener2 ragu untuk tetep lanjutin kuliahmu dan kamu siap dg kekecewaan orangtuamu, mencoba ikut seleksi penerimaan di jurusan yg lain juga masih bisa dimaafkan, mengingat kamu baru semester 3 dan emang masih ada kesempatan untuk pindah. Tapi inget, ga ada jaminan bahwa keadaan di jurusan lain itu bisa lebih baik dari yg kamu pilih sekarang.
      Intinya sih, semua pilihan ga ada yg ideal, tinggal kamu pilih mana yg lebih yakin buat jalanin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s